Jumat, 11 Juli 2014

Kurikulum 2013 dan Keteladanan Guru

Salah satu hal mendasar dalam kurikulum 2013 adalah bergesernya orientasi  pembelajaran.  Pendidikan tidak lagi menitikberatkan pada aspek koginitf (pengetahuan), namun lebih berfokus pada perkembangan sikap (spiritual dan sosial) peserta didik.  Artinya, perkembangan karakter anak jauh lebih penting dari sekedar nilai akademik yang tercantum dalam raport. Untuk itu proses pembelajaran yang terjadi di dalam maupun di luar kelas hendaknya diarahkan pada pembentukan karakter tersebut.
            Adapun untuk menanamkan karakter pada anak bukanlah dengan cara memberikan nasihat-nasihat maupun wejangan-wejangan. Yang mereka butuhkan adalah keteladanan dari seorang guru dalam bersikap. Setiap ucapan maupun perilaku seorang guru tentunya akan dijadikan “kiblat” oleh anak dalam bersikap.
            Sayangnya tidak sedikit dari para guru kita yang justru memberikan contoh tidak baik bagi anak didiknya. Masih ditemukannya guru yang suka berkata-kata kasar ataupun jorok didepan siswanya patut kita sayangkan. Selain itu kebiasaan merokok guru di dalam lingkungan sekolah atau bahkan di dalam kelas membuat tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh kurikulum baru ini semakin jauh panggang dari api. Bagaimana mungkin kita dapat mengajarkan kebiasaan baik kepada anak sementara kita sendiri berbuat sebaliknya.
            Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kontrol yang dilakukan oleh sekolah terhadap guru-guru yang “bermasalah”. Kode etik maupun aturan yang dibuat seakan tak berdaya menghadapi senioritas maupun hubungan kekerabatan dengan para “inohong”yang sampai detik ini masih sulit dihapuskan.  Alhasil, kesalahan yang dilakukan secara berulang-ulang pun seakan dianggap sebagai hal yang lumrah.
            Agar dapat dijadikan teladan oleh siswanya, seorang guru tentunya harus mampu memberikan kesan positif dihadapan para peserta didiknya. Setiap ucapan maupun perbuatan hendaknya benar-benar mencerminkan sosok guru yang sesungguhnya. Hal ini dikarenakan perilaku siswa sejatinya mencerminkan sifat-sifat yang melekat pada gurunya. Setiap ucapan maupun perilaku yang ditunjukkan oleh guru, biasanya ditiru oleh siswanya.
            Di samping itu setiap sekolah diharapkan mampu untuk mengatur perilaku setiap gurunya. Peraturan yang dibuat hendaknya berlaku bagi semua guru tanpa kecuali. Untuk itu dibutuhkan kearifan serta ketegasan dari kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan dalam “menangani” setiap guru yang berperilaku menyimpang.
            Selain itu kode etik yang disusun oleh organisasi profesi guru hendaknya benar-benar dipahami dan dilaksnakan oleh setiap  guru. Hal tersebut perlu dilakukan agar setiap tindakan yang dilakukan oleh guru tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan.
            Dengan senantiasa menjaga kehormatannya didepan peserta didik, kita berharap setiap ucapan dan tindakan seorang guru dapat benar-benar dijadikan teladan. Dengan begitu tujuan pembelajaran yang tercantum dalam kurikulum 2013 ini dapat tercapai.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar