Minggu, 13 Juli 2014

Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 yang akan diterapkan untuk seluruh sekolah mulai tahun ajaran baru mendatang hendaknya benar-benar dipahami oleh guru maupun orang tua. Konsep pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada guru dan lebih menuntut kemandirian siswa tentunya memberikan pengaruh cukup besar terhadap perubahan proses belajar yang selama ini dilakukan.
            Dalam Kurikulum 2013 guru tidak lagi diposisikan sebagai orang yang serba tahu tentang materi yang diajarkannya. Dalam kurikulum baru ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta pengarah selama proses pembelajaran. Oleh karenanya metode diskusi diantara siswa pun lebih banyak dilakukan daripada metode ceramah yang berjalan searah. 
Adapun siswa dituntut untuk bersikap lebih mandiri dalam mencari sumber-sumber pembelajaran.  Ruangan kelas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Berbagai informasi yang tersedia di media cetak maupun online hendaknya benar-benar dimanfaatkan sebagai “nutrisi” tambahan. Hal ini dikarenakan materi yang tercantum dalam kurikulum hanyalah standar minimal yang harus dicapai. Kita tentu tidak ingin melihat anak-anak kita lulus dari bangku sekolah dengan kemampuan “standar”.
Konsekuensinya, orang tua mempunyai peran yang lebih besar dalam keberhasilan proses pembelajaran anaknya daripada sebelumnya. Orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana kondusif yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran di rumah. Menyediakan buku-buku yang sesuai, akses internet yang memadai serta media pembelajaran lainnya adalah upaya-upaya yang harus dilakukan oleh orang tua di rumah. Selain itu orang tua pun diharapkan mampu melindungi anaknya dari berbagai gangguan seperti tayangan media yang tidak mendidik selama proses pembelajaran.
Pergeseran paradigma belajar ini hendaknya benar-benar dipahami oleh para guru maupun orang tua.  Diklat implementasi kurikulum baru yang kini tengah dilaksanakan di sekolah-sekolah hendaknya dimanfaatkan dengan baik oleh para guru.
Selain itu pemerintah pun diharapkan aktif melakukan sosialisasi serta memberikan pemahaman terkait perubahan-perubahan yang terdapat kurikulum baru ini kepada orang tua. Hal ini perlu dilakukan agar orang tua menyadari pentingnya peran mereka dalam keberhasilan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum baru ini. Saat ini pemerintah baru sebatas melakukan sosialisasi tentang pentingnya implementasi kurikulum baru melalui iklan layanan masyarakat. Untuk itu diklat maupun penyuluhan hendaknya tidak hanya berlaku bagi para guru namun juga melibatkan para orang tua.
Dengan memahami perubahan paradigma belajar saat ini, kita berharap guru dan orang tua dapat lebih berperan dalam tercapainya tujuan pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum baru ini. Dengan begitu kreativitas dan kemandirian anak pun akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. (Dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, 12 Juli 2014)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar