Sabtu, 16 Agustus 2014

Memerdekakan Guru

Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia 69 tahun silam ternyata belum sepenuhnya mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dari keterpurukan. Hal ini setidaknya tercermin dalam laporan terbaru yang dirilis oleh The Learning Curve Pearson, sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia yang menempatkan Indonesia  pada posisi juru kunci. Dengan indeks - 1,84, Indonesia bertengger di urutan ke – 40, paling rendah se- Asia Tenggara serta berada di bawah Meksiko, Brazil dan Kolumbia. Hal ini tentu saja menjadi sebuah ironi ditengah semakin meningkatnya anggaran pendidikan dari waktu ke waktu.
            Buruknya kualitas pendidikan di tanah air tersebut antara lain disebabkan oleh banyaknya rintangan yang harus dihadapi oleh sebagian guru kita dalam menjalankan tugasnya. Ketika pemerintah dan masyarakat menuntut mereka untuk mendidik tunas-tunas bangsa dengan penuh dedikasi, disaat yang bersamaan mereka pun harus berjuang keras untuk melepaskan diri dari rantai-rantai besar yang “membelenggu” jiwa dan kreativitasnya. Tak heran jika output yang dihasilkan pun masih jauh dari standar yang ditetapkan.
             Agar setiap pendidik dapat menjalankan tugasnya dengan baik, ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi. Pertama, merdeka dari rasa lapar. Masalah dapur keluarga guru nampaknya masih menjadi persoalan utama yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan. Tuntutan dari para guru (honorer) kepada pemerintah agar meningkatkan kesejahteraannya seharusnya dipandang sebagai persoalan serius, bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mencurahkan perhatian kepada peserta didiknya sementara dia dan keluarganya dalam keadaan lapar.  
            Kedua, merdeka dari tekanan atasan. Adanya kasus seorang guru yang melaporkan terjadinya kecurangan  dalam Ujian Nasional (UN) namun kemudian mendapatkan intimidasi dari atasan maupun rekan sejawatnya merupakan bukti bahwa “penjajahan” ternyata masih dirasakan oleh sebgaian guru kita. Loyalitas terhadap lembaga yang sering kali diidentikkan dengan kepatuhan kepada atasan seakan telah “membunuh” daya kritis pendidik para pendidik kita. Padahal kritikan maupun masukan tersebut sangat berharga dalam upaya membangun sebuah lembaga pendidikan yang berkualtas.
            Ketiga, merdeka dari tekanan orangtua. Saat anak didik memiliki prestasi akademik yang jauh dari harapan maupun berperilaku buruk, tak jarang guru dijadikan kambing hitam oleh orangtua. Adanya paradigma keliru yang memposisikan guru sebagai satu-satunya pihak yang paling berperan dalam mendidik anak, sejatinya merupakan bentuk intimidasi terhadap guru sekaligus mencerminkan sikap orangtua yang hendak lepas tangan. Padahal pendidikan merupakan tugas yang harus dipikul oleh orangtua dan guru. Tanpa ada kerjasama diantara keduanya, mustahil tujuan pendidikan dapat tercapai.
            Dengan membebaskan para guru dari rantai-rantai yang membelenggunya, kita berharap mereka dapat memberikan pendidikan yang terbaik  bagi anak didiknya. Dengan begitu mereka pun akan mampu mencetak generasi emas yang diharapkan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dari keterpurukan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar