Kamis, 07 Agustus 2014

Saat Buku Pelajaran tak Kunjung Datang

Sudah hampir sepekan berjalan, seluruh siswa di sekolah tempat penulis mengabdi saat ini terpaksa harus mengikuti proses pembelajaran tanpa menggunakan buku paket. Orangtua pun mulai khawatir anaknya tidak dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Padahal jauh-jauh hari mereka telah diberi tahu oleh sekolah bahwa buku tersebut akan diterima anaknya pada saat tahun ajaran baru dimulai sesuai dengan janji Mendikbud.
            Kekhawatiran para orangtua tersebut memang cukup beralasan.  Tahun lalu saja terdapat salah satu sekolah sasaran kuirkulum 2013 di daerah kami yang hingga semester dua sudah berjalan, buku paket yang dijanjikan pemerintah tersebut belum juga diterima oleh anak. Akibatnya, proses pembelajaran pun menjadi terganggu sehingga anaklah yang dirugikan.
            Di sisi lain sekolah pun nampaknya berada pada posisi yang sulit. Hal ini dikarenakan himbauan pihak Kemendikbud yang melarang sekolah untuk membeli buku paket diluar daftar penerbit resmi pemenang lelang pengadaan buku tersebut. Selain dikarenakan harganya jauh lebih mahal, secara substansi buku tersebut dikhawatirkan tidak sesuai dengan arahan yang dirancang oleh Kemendikbud.
            Ada dua hal yang menjadi perhatian penulis dalam menyikapi “kisruh” keterlambatan buku tersebut. Pertama, murahnya harga yang ditawarkan oleh penerbit resmi tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kualitas buku yang dicetak. Dunia anak terutama Sekolah Dasar (SD) adalah dunia yang penuh warna. Anak yang terbiasa menggunakan buku berkualitas (premium) tentunya akan menjadi tidak nyaman jika tiba-tiba harus belajar menggunakan buku yang secara visual apa adanya. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar mereka.
            Kedua, secara substansi buku yang disediakan oleh penerbit resmi buku kurikulum 2013 memang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi berharap pada sesuatu yang tak pasti juga bukanlah keputusan yang bijak. Menunggu datangnya buku tersebut tanpa adanya kepastian kapan anak dapat menerimanya tentunya akan menghambat proses pembelajaran yang sedang berjalan.
            Menyikapi kondisi seperti ini, ada baiknya pihak sekolah bermusyawarah dengan orang tua untuk mencari solusinya. Menawarkan kepada mereka untuk membeli buku dari penerbit yang benar-benar siap menyediakan buku tepat waktu dan berkualitas sekalipun penerbit tersebut tidak resmi dan harganya lebih mahal nampaknya pilihan yang tepat (setidaknya untuk saat ini). Masa depan anak-anak kita terlalu sayang untuk dipertaruhkan oleh kekisruhan semacam ini. Masyarakat memang menginginkan pendidikan yang murah, namun kualitas tetap harus diutamakan.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar