Rabu, 17 September 2014

Berbagi Pengalaman Menulis di Media Cetak

Bagi sebagian orang, menulis di media cetak merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menulis. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan konsistensi dalam melaksanakan aktivitas menulis.
Berawal dari kegundahan saya ketika melihat banyaknya aspek dalam dunia pendidikan kita yang harus segera diperbaiki, saya pun mencoba menuliskan unek-unek saya dalam sebuah blog gratisan yang dulu saya buat. Tulisan tersebut kemudian saya bagikan di media sosial. Tak disangka, banyak juga orang lain yang berpendapat sama dan sama sama merasakan apa yang saya rasakan, meskipun ada juga yang tidak sependapat. Akan tetapi, tulisan saya tersebut setidaknya mampu merangsang orang lain untuk mengomentari tulisan saya.
Beberapa hari kemudian saya pun mencoba membuat tulisan lain dengan tema yang berbeda. Seperti biasa tulisan tersebut saya bagikan juga di media sosial. Berbagai komentar pun mulai berdatangan baik yang pro maupun yang kontra. Namun ada satu komentar dari seseorang yang membuat saya ketagihan untuk menulis di media cetak hingga saat ini. Orang yang berkomentar tersebut menganjurkan saya agar mengirimkan tulisan tersebut  ke salah satu media cetak. Setelah itu saya pun mencoba mengikuti saran tersebut.
Ternyata tulisan yang saya kirim tersebut tidak dimuat oleh media cetak yang dimaksud. Namun demikian saya pun tidak kecewa, toh tujuan saya menulis juga bukan untuk itu melainkan untuk mengeluarkan ide dan unek-unek saya, kali aja ada yang nyambung. Meskipun begitu saya pun  tetap mencoba mengirimkan tulisan ke media cetak tersebut hingga sebelas kali sampai datanglah waktu yang membuat hidup saya berubah 180 derajat.
Suatu sore sepulang dari aktivitas mengajar di sekolah, saya menerima pesan singkat dari istri tercinta yang juga sama-sama selesai mengajar bahwa dia melihat foto saya ada di Koran. Saya pun hampir tidak percaya mendengarnya karena satu-satunya wajah saya muncul di Koran adalah sewaktu melakukan aksi demonstasi di jalan saat saya masih mahasiswa. Saya pun meminta istri untuk kembali melihat foto tersebut dengan sebaik-baiknya beserta keterangan yang ada didalamnya.

Sungguh diluar dugaan, ternyata itu adalah tulisan ke sebelas yang saya kirim dua minggu sebelumnya. Sejak saat itu saya pun semakin bergairah untuk menulis, bukan karena honor yang bisa saya terima dari media cetak, melainkan rasa bangga karena bisa berbagi ide atau pikiran dengan orang banyak khususnya yang berprofesi guru seperti saya.
Sejak saat itu pula saya mencoba mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak yang berbeda, baik itu media cetak nasional maupun lokal seperti surat kabar Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dan Siap Belajar. Hasilnya, tulisan – tulisan saya pun mulai menghiasi media cetak tersebut. Apresiasi  dari rekan kerja, kepala sekolah sampai dari mertua pun berdatangan, meski tidak sedikit pula yang meragukan karena tampang saya yang tidak meyakinkan untuk menjadi penulis. Rekan sekerja saya hanya tahu bahwa hobi saya adalah memancing sepulang dari sekolah sehingga tidak mungkin mampu membuat tulisan di media cetak. Selain itu kebiasaan saya minum kopi di ruang guru setiap kali saya datang ke sekolah, membuat mereka menyangka kepala saya terlalu keruh untuk berpikir jernih dalam membuat sebuah tulisan yang berbobot.

Adapun beberapa tips untuk membuat tulisan di media cetak anatara lain.
1.      Niat
Niat membuat tulisan sangat penting dalam menjaga konsistensi menulis. Oleh karena itu niatkan membuat tulisan untuk berbagi dan bersilaturrahim, bukan karena hal-hal lain. Tanpa adanya niat yang tulus, kebiasaan menulis pun akan berhenti di tengah jalan.
2.      Pantang Menyerah
Saat tulisan yang anda kirimkan tidak dimuat oleh media cetak, janganlah berputus asa. Cobalah baca kembali apakah tulisan anda sesuai dengan fenomena yang sedang hangat sat ini, apakah ejaannnya benar, apakah data-datanya valid ? jika tidak cobalah perbaiki lagi kemudian krimkan kembali. Saya sendiri punya pengalaman saat tulisan saya tidak dimuat di salah satu media cetak, maka saya coba perbaiki dan kemudian dikirim ke media cetak yang lain dan ternyata dimuat. Bahkan, beberapa tulisan yang tidak dimuat di media cetak sebelumnya, saya kirim ke media cetak yang lain tanpa adanya perbaikan dan hasilnya tetap dimuat.
3.      Pahami Karakteristik Media Cetak
Setiap media cetak tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Misalnya saja media Cetak A lebih menyukai tulisan yang tema, judul maupun isinya “menggigit”, mengandung konflik maupun polemik. Sedangkan media cetak B lebih menyukai tulisan yang penyampaiannya datar, bersifat solutif dan menjauhi konflik atau polemik. Selain itu hal lain yang harus diperhatikan adalah jumlah kata dari tulisan yang kita buat. Panjang atau pendeknyanya tulisan memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah tulisan, akan tetapi cukup berpengaruh terhadap dimuat atau tidaknya tulisan tersebut. Untuk mengetahui jumlah kata yang harus dibuat, kita bisa melihat tulisan oranglain yang pernah dimuat.  
4.      Mendapatkan Ide Tulisan
Ide untuk mendapatkan tulisan sebenarnya bisa datang dari mana saja, bisa dari Koran, televisi, internet maupun dari sumber-sumber lainnya. Namun demikian tulisan akan lebih berbobot dan “berjiwa” apabila tulisan tersebut menceritakan apa yang sedang kita alami. Misalnya saja dampak rencana dihapuskannya sertifikasi bagi guru yang tidak memiliki ijazah yang linier dengan mapel yang diajarkannya. Selain itu sering melakukan diskusi dengan sejawat pun akan semakin menambah ide dalam membuat tulisan.

5.      Tulislah Tema Dikuasai atau Disukai
Buatlah tulisan tentang hal yang memang sesuai dengan latar belakang anda atau tentang hobi yang anda sukai. Hal tersebut tentunya akan dijadikan pertimbangan oleh pihak media cetak meskipun itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan dimuat atau tidak nya sebuah tulisan. Saya sendiri menulis berbagai hal tentang dunia pendidikan karena profesi saya adalah seorang guru.

Akhir kata saya pun selalu mencoba memotivasi diri saya untuk tetap menulis dengan sebuah bait yang berbunyi :
Puluhan kali kau tolak cintaku
Ratusan kali kan kunyatakan kembali
Ribuan kali kau tolak naskahku

Jutaan kali kan kukirimkan kembali.

1 komentar:

  1. Terima kasih udah sharing pak, cerintanya sangat inspiratif (y)

    BalasHapus