Rabu, 10 September 2014

Peran Strategis Pengawas Sekolah

Kualitas lulusan sebuah institusi pendidikan tentunya tidak dapat dilepaskan dari penjaminan mutu (quality control) selama proses pembelajaran. Dalam hal ini pengawas sekolah adalah pihak yang bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap terpenuhinya 8 standar pendidikan seperti yang telah digariskan oleh pemerintah pusat. Berdasarkan Permenpan No 21 Tahun 2010, pengawas sekolah bertugas untuk melaksanakan  pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan.
            Pengawasan akademik tersebut meliputi pengawasan terhadap proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru baik dikelas dan laboratorium maupun berkaitan dengan hasil belajar siswa. Sedangkan pengawasan manajerial berkenaan dengan kinerja manajemen sekolah yang dalam hal ini dikomandoi oleh kepala sekolah.
Pola kerja pengawas yang terkesan selalu bekerja dibelakang layar mengakibatkan keberadaan pengawas masih dipandang sebelah mata dalam menentukan keberhasilan tujuan pendidikan. Jika sebuah sekolah memiliki prestasi yang baik biasanya nama kepala sekolah yang pertama kali disebut. Namun jika sekolah dikenal masyarakat dengan segudang masalah, semua mata tertuju pada pengawas sekolah.
Belum optimalnya peran pengawas sekolah antara lain disebabkan terlalu banyaknya jumlah sekolah yang harus dibina. Dalam Permendiknas no 12 Tahun 2007 disebutkan bahwa pengawas Sekolah Dasar mengawas dan membina paling sedkit 10 sekolah dan paling banyak 15 sekolah. Dalam pandangan penulis jumlah tersebut tidaklah rasional jika proses penjaminan mutu ingin benar-benar dilaksanakan.  Bagaimana mungkin sekolah akan mendapatkan bimbingan yang maksimal dari pengawas jika frekuensi kedatangan pengawas ke sekolah-sekolah sangat minim.
Faktor lain yang menyebabkan belum optimalnya peran pengawas sekolah adalah tidak memadainya anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk pengawas dalam melaksanakan tugasnya. Akibatnya tidak jarang sekolah harus menutupi kekurangan tersebut. Hal ini tentu saja bisa mengakibatkan dampak psikologis yang tidak baik bagi pengawas sekolah. Wibawa pengawas  lambat laun akan luntur dihadapan sekolah.
Agar pengawas dapat bekerja lebih optimal dalam melaksanakan penjaminan mutu, setidaknya ada dua langkah awal yang dapat dilakukan. Pertama, memberikan dukungan sarana, prasarana serta biaya yang memadai kepada pengawas selama menjalankan tugasnya. Dengan fasilitas yang memadai akan lebih mudah bagi pengawas dalam melaksanakan tugasnya.
Kedua, dengan mengurangi jumlah sekolah yang harus dibina, pengawas akan lebih fokus dalam menjalankan fungsi pengawasan. Idealnya seorang pengawas hanya mengawasi satu sekolah. Dengan begitu segala permasalahan yang terjadi disekolah dapat segera  diselesaikan dengan baik. Dengan upaya-upaya tersebut kita berharap dimasa yang akan datang pengawas mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak hanya sekedar pelengkap penderita. Semoga.  (Dimuat di Surat Kabar Siap Belajar Edisi September Awal 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar