Rabu, 01 Oktober 2014

Pendidikan yang Memerdekakan

Dunia pendidikan di tanah air kembali dihebohkan dengan kejadian yang diluar kebiasaan. Kali ini seorang alumnus pasca sarjana dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, meminta Mahkamah Konstitusi (MK) untuk merevisi pasal 344 terkait permintaan suntik mati. Adapun alasan depresi karena ditinggal mati oleh kedua orangtua serta diberhentikan dari pekerjaannya, mendorong yang bersangkutan untuk segera mengakhiri hiudpnya. Reaksi masyarakat pun bermunculan, mulai dari yang memberi simpati sampai dengan yang menganggapnya sebagai orang sakit jiwa.
            Apa yang dilakukan oleh alumnus tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan yang dilakukan selama ini ternyata belum mampu menjadikan peserta didik sebagai insan yang merdeka. Lembaga pendidikan (tinggi) lebih terkesan sebagai tempat untuk mencetak generasi pencari kerja yang (selalu) bergantung pada tersedianya lapangan pekerjaan. Tak heran jika jumlah pengangguran terdidik pun semakin bertambah dari waktu ke waktu. Kerja keras yang dilakukan para mahasiswa di bangku kuliah selama bertahun-tahun pun seakan sia-sia.
            Kondisi ini diperparah dengan masih dianutnya “mitos lama” oleh sebagian masyarakat kita yang menganggap gelar sebagai jaminan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Selembar ijazah sarjana  dipandang sebagai “jimat” yang mampu merubah nasib seseorang dalam sekejap.  Mitos ini pun diwariskan secara turun temurun oleh orangtua kita sehingga  melahirkan generasi yang memiliki pemikiran yang sempit.
            Setali tiga uang, perguruan tinggi (swasta) pun seakan tak henti-hentinya memperdaya masyarakat dengan iming-iming penempatan kerja langsung jika putra-putrinya kuliah di tempat mereka. Melalui berbagai iklan yang menarik, mereka berhasil menjaring para calon mahasiswa dengan jargonnya yang cukup terkenal yaitu “link and match”. Namun penyesalan pun kerap dialami oleh para lulusan karena apa yang dijanjikan ternyata sangat jauh dari harapan.  
            Apa yang penulis gambarkan diatas sejatinya merupakan akibat dari ketidakpahaman masyarakat kita tentang hakikat pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan (masih) dipandang sebagai alat untuk membebaskan diri dari rasa lapar dan bukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan lebih luas. Alhasil, sifat-sifat individualistis dan materialistis pun lebih menonjol sehingga memupus nilai-nilai humanis.
            Untuk menciptakan pendidikan yang memerdekakan, diperlukan paradigma baru dalam memandang tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan hendaknya dipahami sebagai upaya untuk mencari bekal dalam rangka mengabdi kepada masyarakat sebagaimana yang tercantum dalam Tri Darma perguruan tinggi. Pendidikan juga sebaiknya dipandang sebagai usaha terencana dan sistematis untuk membangun sebuah peradaban baru yang mampu memberikan kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu buah manis dari sebuah proses pendidikan yang berlangsung bertahun-tahun tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.  (Dimuat di Surat Kabar Siap Belajar, Edisi September Akhir 2014)      

           

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar