Rabu, 12 November 2014

Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi MEA


Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 mendatang kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan dunia usaha maupun dunia pendidikan. Rendahnya kualitas SDM yang dimiliki menjadi persoalan utama yang harus segera diselesaikan secara bersama. Jika tidak, bangsa yang besar ini pun terancam hanya akan menjadi penonton di saat bangsa lain memetik manfaat dari datangnya era globalisasi tersebut.
Berdasarkan data dari UNDP pada tahun 2012 yang lalu, Human Development Index (HDI) Indonesia ternyata menempati peringkat 121 dari 187 negara yang dibandingkan oleh UNDP. Sedangkat untuk tingkat ASEAN sendiri, Indonesia bertengger di peringkat ke enam dan berada di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Philipina. Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Vietnam dan Myanmar yang berada di urutan ke -7 dan ke – 8.
Di sisi lain dunia pendidikan terutama perguruan tinggi sering kali menjadi “tersangka utama” atas rendahnya kualitas lulusan yang dihasilkan. Perguruan tinggi saat ini dipandang belum mampu menghasilkan output yang mampu bersaing dengan tenaga ahli dari negara lain. Padahal, hal tersebut bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kualitas SDM kita. Ketidakmampuan pemerintah dalam menghargai setiap tetes keringat warganya merupakan penyebab lain yang tak kalah pentingnya.
Banyaknya putra-putra terbaik bangsa yang memilih berkiprah di negara lain untuk mengembangkan kemampuannya maupun untuk sekedar mencari sesuap nasi menunjukkan bukti bahwa SDM kita tidak serendah yang dibayangkan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menjadi rebutan berbagai negara karena potensi yang dimilikinya. Sebut saja BJ Habibie, Yogi Ahmad Erlangga serta sederet nama-nama beken lainnya yang mungkin kita sendiri tidak pernah mengenalnya.
Adapun hengkangnya mereka dari tanah air seharusnya menjadi warning bagi pemerintah untuk dapat lebih menghargai prestasi warganya. Jika pemerintah sanggup memberikan gaji yang tinggi kepada tenaga asing yang berkerja di Indonesia, lalu mengapa warga pribumi yang juga berkualitas hanya mendapatkan (gaji) alakadarnya ?. Jika kebijakan semacam ini tetap dilanjutkan, maka kecemburuan sosial yang berakhir pada konflik horizontal pun semakin tak terhindarkan. Kerusuhan pekerja yang terjadi di Batam beberapa tahun lalu merupakan contoh nyata dari fenomena yang dimaksud.
Berdasarkan gambaran di atas terlihat jelas bahwa untuk menghasilkan serta mempertahankan SDM yang unggul, bukan hanya dunia pendidikan yang harus segera berbenah. Dibutuhkan kesadaran (politik) dari pemerintah untuk senantiasa menghargai prestasi warganya. Selain itu meningkatkan anggaran untuk riset serta meningkatkan kesejahteraan para ilmuwannya merupakan kebijakan yang harus segera diambil. Jika tidak, tidak mustahil akan terjadi eksodus tenaga terampil ke luar negeri dan pada akhirnya Indonesia pun tidak akan pernah menjadi negara yang maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar