Jumat, 07 November 2014

Membangkitkan Budaya Menulis di Kalangan Guru


Perkembangan budaya menulis di kalangan guru akhir-akhir ini memang menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Hal tersebut dapat kita lihat dari munculnya wajah-wajah baru yang menghiasi berbagai media cetak maupun online. Hampir setiap hari, kita bisa “menikmati” ide-ide segar mereka melalui kolom opini yang diperuntukkan khusus bagi guru. Fenomena ini sejatinya tidak dapat dilepaskan dari peran media cetak maupun online yang secara konsisten memberikan ruang bagi para guru untuk bersuara.
Bagi kalangan guru sendiri, menulis artikel khususnya di media massa nampaknya telah menjadi sebuah kebutuhan. Selain dijadikan salah satu dasar dalam Penilaian Kinerja Guru (PKG) berdasarkan Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010, eksisnya guru di media massa menunjukkan bahwa yang bersangkutan benar-benar memahami dunia pendidikan yang menjadi bidang kerjanya. Di samping itu besarnya honor yang dapat diterima untuk tiap tulisan yang berhasil dimuat, sangat membantu para guru untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Meskipun demikian, jumlah guru yang mau menuangkan ide-ide segarnya dalam bentuk tulisan terutama di media massa masih jauh dari harapan. Dari total sekitar 3,1 juta lebih guru yang tersebar di seluruh Indonesia, tak lebih dari lima persennya yang berani menulis di media massa maupun mengarang sebuah buku. Padahal budaya menulis sangat penting bagi seseorang yang berprofesi sebagai pendidik. Melalui tulisan, mereka dapat berbagi pengalaman dengan guru lainnya dalam mendidik anak. Dengan begitu mereka pun akan mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang seprofesinya.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan para guru kita enggan untuk memulai menulis (buku). Pertama, masih rendahnya budaya membaca di kalangan guru secara otomatis berpengaruh pula pada rendahnya motivasi mereka untuk menulis. Dengan kata lain, kebiasaan membaca menjadi syarat mutlak bagi siapa saja untuk mampu membuat tulisan. Sebagian dari guru masih enggan memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai salah satu pusat sumber belajar. Mereka lebih gemar membaca Koran maupun tabloid yang berkaitan dengan hobi mereka seperti olahraga, otomotif dan memancing.
Kedua, banyaknya aktivitas yang dilakukan di sekolah tak jarang membuat guru “terjebak” dalam kegiatan rutinitas. Akibatnya, guru pun tak lagi memiliki energi yang cukup untuk menuangkan berbagai gagasan maupun pengalamannya melalui tulisan. Sesampainya di rumah, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk beristirahat maupun mengerjakan urusan rumah tangga.
Ketiga, alasan lain guru enggan menulis buku adalah keterbatasan kemampuan mereka dalam merangkai kata. Kenyataan menunjukkan, banyak sekali guru-guru kita yang mempunyai ide-ide cemerlang maupun pengalaman-pengalaman yang sangat berharga untuk dibagi kandas begitu saja akibat ketidakmampuan mereka untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Untuk mampu membuat sebuah tulisan yang bermutu memang tidaklah mudah. Dibutuhkan kemauan yang tinggi untuk senantiasa memperbanyak bacaan serta konsisten dalam menulis. Menuangkan tulisan dalam blog pribadi sejatinya bisa menjadi awal yang baik dalam melatih kemampuan menulis. Selain itu sering mengunjungi kanal edukasi pada microblog seperti kompasiana akan sangat membantu para guru dalam menemukan ide-ide segar untuk kemudian dijadikan sebuah tulisan yang menarik. Tak hanya itu, dengan mengikuti berbagai blog competition seperti yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation, secara tidak langsung dapat mengasah kemampuan guru untuk menuangkan buah pikirannya ke dalam sebuah tulisan.
Dengan membangkitkan (kembali) budaya menulis di kalangan guru, diharapkan (jiwa) profesionalisme mereka pun akan berkembang sehinga mampu memberikan spirit bagi siswanya untuk menulis. Dengan demikian, budaya literasi di kalangan guru yang dulu pernah terkikis pun, dapat kembali menghiasi wajah dunia pendidikan kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar