Senin, 03 November 2014

Rokok dan Ancaman Bonus Demografi

Bonus demografi yang akan diterima oleh Indonesia pada tahun 2025-2035 mendatang, berpotensi menjadi musibah demografi akibat tingginya konsumsi rokok di kalangan remaja. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia, Hery Charyansyah beberapa waktu lalu.  Menurut lembaga tersebut, jumlah perokok pemula antara lima sampai Sembilan tahun meningkat 350 persen sepanjang tahun 1995 hingga 2004. Tak hanya itu, data Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa 70 perokok di Indonesia sudah mulai merokok sebelum mereka berusia 19 tahun.
Apa yang penulis gambarkan di atas sejatinya merupakan tamparan sekaligus tantangan bagi pemerintah dalam melindungi warganya dari bahaya asap rokok. Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak rupanya belum mampu mengakomodasi seluruh permasalahan yang dialami oleh anak, termasuk “kekerasan” yang dilakukan secara halus  oleh para produsen rokok. Undang-undang tersebut baru mampu sebatas melindungi mereka dari kejahatan fisik maupun seksual yang dilakukan oleh para pelaku phedopilia.
Akibatnya, perlahan tapi pasti, zat aditif yang dihisap oleh remaja kita secara terus menerus telah menggerogoti tubuh mereka dari dalam dan tak jarang berakhir dengan kematian. Data yang dimiliki oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) menyebutkan bahwa sebanyak 190.260 Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat rokok. Artinya dalam sehari ada 500 orang lebih yang meninggal dunia akibat menjadi perokok aktif maupun pasif. Ironisnya, sebagian besar dari perokok aktif tersebut adalah mereka yang masih tergolong usia produktif seperti kalangan pelajar dan mahasiswa. Bonus demografi yang akan diterima pun tidak mustahil akan berubah menjadi musibah demografi.
Untuk menyelamatkan masa depan generasi muda tersebut, dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam bentuk pembuatan undang-undang yang mampu memberikan perlindungan kepada warganya dari bahaya rokok. Selain itu pemberian sanksi tegas kepada para penjual rokok yang menjual barang dagangannya kepada mereka yang belum cukup umur diharapkan dapat menekan tingginya konsumsi rokok di kalangan remaja.
Adapun sekolah sebagai tempat dimana sebagian besar generasi penerus tersebut menuntut ilmu, diharapkan mampu memberikan edukasi sejak dini akan bahaya yang dtimbulkan akibat mengkonsumsi tembakau. Proses edukasi tersebut hendaknya dilakukan sejak anak masih duduk di bangku SD. Bahkan, penanaman kesadaran akan bahaya tembakau  tersebut sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah melalui “Pendidikan Anti Tembakau”. Dengan begitu siswa pun akan berpikir seribu kali untuk menjadikan tembakau sebagai “teman setia” nya.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah dengan sekolah, diharapkan akan lahir generasi penerus yang sehat secara jasmani dan rohani. Dengan demikian, bonus demografi yang akan diterima pun benar-benar akan memberikan manfaat bagi bangsa ini, bukan sebaliknya. (Dimuat di Harian Umum Republika, 04 November2014)


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar