Jumat, 19 Desember 2014

Dilema Sekolah Swasta


Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu ternyata membawa dampak cukup besar bagi keberlangsungan hidup sekolah-sekolah swasta di tanah air. Efek domino dari naiknya harga BBM tersebut dirasakan langsung oleh pengelola sekolah maupun para guru yang tengah mengabdi. Meroketnya harga barang kebutuhan operasional sekolah , membuat pengelola terpaksa merevisi kembali rencana anggaran pengeluaran sekolah yang telah dibuat sebelumnya. Adapun guru (honorer) harus bersiap untuk lebih mengencangkan ikat pinggangnya.
Kenaikan harga BBM yang terjadi di pertengahan tahun pelajaran seperti saat ini telah menempatkan sekolah-sekolah swasta pada posisi yang sulit. Membuat kebijakan menaikkan SPP secara tiba-tiba untuk menutupi biaya operasional sekolah, hanya akan membuat orangtua siswa naik pitam. Akan tetapi jika hal tersebut tidak dilakukan, sekolah harus rela menanggung kerugian lebih besar akibat membengkaknya pengeluaran.
Di sisi lain kenaikan gaji berkala yang baru diterima oleh para guru beberapa bulan lalu menjadi tak ada artinya akibat tingginya kebutuhan hidup saat ini. Penambahan nominal gaji yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan guru pada akhirnya hanya berguna untuk menutupi inflasi terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Akibatnya, prinsip-prinsip GBHN alias Gajih Beak Hutang Nambahan pun harus kembali dialami oleh para guru (non-PNS) yang mengabdi di sekolah-sekolah swasta.
Menyikapi kondisi semacam ini, sudah seharusnya pemerintah turun tangan membantu sekolah-sekolah swasta yang kesulitan. Klaim pemerintah mengalihkan subsidi BBM ke sektor-sektor lainnya seperti pendidikan pun sudah saatnya dibuktikan di lapangan. Dalam hal ini meningkatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara signifikan, merupakan langkah yang dapat diambil. Dengan demikian beban sekolah swasta pun sedikit dapat terkurangi.
Adapun untuk menjaga daya beli para gurunya, pemerintah diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi para guru untuk memperoleh barang-barang yang dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Memberikan diskon khusus bagi guru untuk membeli buku ataupun memfotocopy soal-soal ujian akan sangat membantu para guru dalam menjalankan tugasnya. Selain itu memberikan harga khusus bagi guru untuk bepergian menggunakan sarana transportasi umum juga dapat meringankan beban mereka dalam menghadapi kondisi yang sulit ini.
Di samping meminta bantuan kepada pemerintah, manajemen sekolah pun diharapkan aktif mencari dana-dana dari sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Dalam hal ini sekolah dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan untuk kemudian memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dimilikinya. Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk menutupi defisit anggaran yang dialami oleh sekolah.
Melalui berbagai upaya di atas, diharapkan sekolah-sekolah swasta dapat bertahan dalam keadaan sulit seperti ini. Partisipasi mereka dalam mendidik tunas-tunas bangsa ini harus tetap kita dukung. Dengan demikian, lahirnya generasi unggul seperti yang dicita-citakan pun dapat benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar