Rabu, 10 Desember 2014

Media Sosial dan Pendidikan Karakter


Semakin banyaknya anak maupun remaja yang aktif di media sosial akhir-akhir ini seharusnya dijadikan peluang sekaligus tantangan oleh pendidik dalam menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Hal ini dikarenakan saat ini media sosial telah menjadi “ruang” tersendiri dimana anak-anak kita biasa beraktivitas dan berinteraksi dengan sesamanya. Mulai dari saling menyapa, berbagi pengalaman, mengirim gambar sampai dengan membagikan undangan mereka lakukan lewat media sosial.
Meskipun demikian, tidak sedikit dari mereka yang melakukan perbuatan menyimpang di media sosial. Berkata-kata kasar atau kotor, menyebarkan gambar-gambar yang tidak senonoh sampai dengan saling menjelekkan diantara teman sendiri adalah fenomena yang lazim terjadi saat ini. Kurangnya pengawasan dari guru maupun orang tua menyebabkan tindakan-tindakan semacam ini berlangsung secara terus menerus. Bahkan, konflik yang terjadi di dunia maya tersebut mereka bawa ke dunia nyata. Pada akhirnya perbuatan menyimpang ini tak jarang merusak hubungan baik mereka di kehidupan nyata.
Disisi lain masih banyaknya guru yang enggan untuk aktif di media sosial seakan menjadi persoalan tersendiri bagi dunia pendidikan. Adanya “kesenjangan” generasi antara guru dan siswa disinyalir sebagai faktor utama minimnya guru yang bersedia untuk “eksis” di media sosial. Anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah sejatinya merupakan generasi digital (Digital Natives) yang sudah terbiasa berinteraksi dengan peralatan digital sejak mereka kecil. Sedangkan kita sebagai pendidik yang sebagian besar baru mengenal peralatan digital merupakan “Generasi Pendatang” (Digital Immigrants) yang memerlukan waktu untuk mempelajari cara kerja peralatan tersebut.
Untuk menghindari gap antar generasi ini diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari para pendidik kita dalam menyesuaikan diri dengan “lingkungan” peserta didiknya. Dalam hal ini meningkatkan kemampuannya di bidang IT merupakan jalan bagi guru untuk dapat “berkomunikasi” dengan peserta didiknya. Melibatkan diri dalam sebuah interaksi yang dibangun oleh peserta didik di media sosial tentunya akan mampu mencegah mereka untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Guru dapat memberikan teguran maupun sanksi kepada siswa yang melakukan pelanggaran, terutama yang berkaitan dengan etika.
Selain melakukan fungsi pengawasan, guru pun dapat menanamkan pendidikan karakter kepada mereka dengan cara membuat status yang berisi nasihat maupun ajakan untuk berbuat hal-hal yang baik. Disamping itu guru pun bisa menyisipkan link-link berita maupun tayangan video dari situs lain yang dinilai bermanfaat bagi perkembangan karakter peserta didiknya.
Dengan upaya-upaya semacam ini kita berharap setiap pendidik mampu memanfaatkan media sosial sebagai tempat kedua bagi mereka untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Dengan begitu berbagai perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh peserta didik selama ini secara perlahan dapat dicegah.  (Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal November 2014)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar