Rabu, 24 Desember 2014

Sisindiran Sebagai Sarana Untuk Berekspresi


Mun bade angkat ka sawah
Kedah pamit ka pa haji
Mun hoyong dipikanyaah
Kedah emut kana jangji

Itulah sepenggal paragraph sisindiran yang penulis temukan di salah satu komunitas di jejaring sosial beberapa waktu lalu. Sisindiran tersebut ditulis dalam rangka menyikapi kebijakan pemerintah yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga dianggap menyulitkan rakyat kecil. Adapun si penulis merupakan anggota sebuah komunitas di dunia maya yang sengaja dibentuk untuk mewadahi mereka yang memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya sunda.
Kebijakan Presiden Jokowi untuk mengurangi subsidi BBM di masa awal pemerintahannya memang mengundang reaksi keras dari banyak pihak. Masyarakat menganggap hal tersebut sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap janji politik yang pernah disampaikannya pada masa kampanye pilpres beberapa bulan lalu. Media sosial pun pada akhirnya dijadikan tempat untuk mengekspresikan kekesalan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang tidak populer itu.
Sayangnya, reaksi tersebut disampaikan dengan cara-cara yang tidak beradab. Cacian, makian, umpatan sampai dengan bahasa binatang digunakan untuk menghakimi orang nomor wahid di negeri ini. Mereka seakan lupa bahwa orang yang sedang dihinakan tersebut adalah pemimpin yang mereka pilih sendiri untuk menakhodai bangsa yang besar ini. Akibatnya, konflik vertikal maupun horizontal pun semakin tak terhindarkan. Debat kusir antar pendukung pun senantiasa menghiasi ruang-ruang di dunia maya. Sementara diluar sana demonstrasi besar-besaran pun digelar dan mengakibatkan korban luka.
Apa yang penulis gambarkan diatas merupakan akibat dari ketidakmampuan generasi (muda) saat ini dalam mengekspresikan ide maupun pendapatnya dengan cara-cara yang elegan. Mereka seakan tidak mengenal etika maupun adat istiadat saat menyampaikan pendapat ataupun memberikan masukan kepada orang lain. Padahal basa Sunda mengajarkan kita untuk senantiasa memberikan teguran kepada orang lain dengan cara-cara yang baik.
Adapun sisindiran merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mengekspresikan suatu keadaan yang tengah dirasakan seseorang. Selain itu sisindiran sebagai salah satu karya sastra juga biasa dimanfaatkan sebagai “alat” untuk ngageunggeureuhken penguasa tanpa harus membuatnya naik pitam. Hal ini dikarenakan sisindiran lebih banyak berisi nasihat ataupun masukan dibandingkan ungkapan yang cenderung mendiskreditkan.
Oleh karena itu, peran aktif guru basa Sunda dalam mengajarkan budaya asli sunda yang satu ini sangat diharapkan. Selain diajarkan di dalam kelas, sisindiran juga sebaiknya dipentaskan dalam berbagai pertunjukan seperti saat acara kenaikan kelas. Hal tersebut perlu dilakukan guna lebih memasyarakatkan sisindiran di kalangan siswa maupun orangtua. Selain itu memajang hasil karya siswa di mading sekolah juga dapat dijadikan bentuk apresiasi bagi siswa yang benar-benar aktif berkarya dalam melestarikan budaya sunda.
Dengan menjadikan sisindiran sebagai sarana untuk berekspresi, diharapkan masyarakat (khususnya generasi muda) lebih bijak dalam menyampaikan kritik maupun pendapatnya. Dengan demikian, konflik vertikal maupun horizonal yang selama ini menghiasi kehidupan masyarakat pun dapat dihindarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar