Senin, 26 Januari 2015

Membumikan Basa Sunda


Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menjaga kelestarian bahasa ibunya, salah satunya adalah dengan membentuk komunitas pengguna bahasa daerah di dunia maya. Melalui grup-grup yang dibuat di media sosial tersebut, mereka pun aktif berinteraksi satu sama lainnya mengggunakan bahasa ibunya. Bahkan, acara tatap muka langsung (kopdar) yang dikemas dalam bentuk makan bareng atau mancing bareng, sering kali diadakan untuk mempererat tali silaturrahmi di antara mereka.
Itulah yang dilakukan oleh salah seorang anggota Caraka Sundanologi, Zaki yang pada tahun 2010 lalu membuat sebuah grup di media sosial dan dinamai “Nyarios Sunda- Ngamumule Basa Sunda” (NS-NBS). Dengan membuat grup tersebut, Zaki pun berharap dapat (kembali) “membumikan” basa Sunda yang kini mulai ditinggalkan. Tak disangka, komunitas yang dibangun sejak empat tahun lalu tersebut mengundang animo cukup besar dari masyarakat. Saat ini tercatat tak kurang dari 80.000 orang yang terdaftar sebagai anggota. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang berasal dari mancanegara.
Apa yang dilakukan oleh Zaki dan kawan-kawannya tersebut pada dasarnya merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi masyarakat sunda itu sendiri. Masih ditemukannya anak-anak yang tidak mengerti arti kata panangan atau pangambung padahal ayah asli orang Garut dan ibu berasal dari Cililin adalah salah satu contoh kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan bahasa ibunya.
Akibatnya, anak pun sering kali mengalami banyak hambatan dalam berkomunikasi saat terjun ke masyarakat. Hal ini dikarenakan basa sunda bukan hanya sekedar bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Lebih dari itu basa sunda sangat berkaitan erat dengan budaya dan tata krama dalam masyarakat sunda. Mahalnya harga kata “punten” yang keluar dari mulut seorang siswa ketika melewati guru-guru yang sedang duduk di lantai menunjukkan kurangnya perhatian terutama dari orang tua tentang pentingnya mengajarkan tata krama (sunda) pada anaknya.
Menyikapi kondisi semacam ini, sudah saatnya kita bahu-membahu dalam menjaga kelestarian basa sunda. Di saat sekolah dan orangtua (dianggap) tidak lagi “mampu” menjaga warisan budaya yang sangat berharga itu, media sosial pun menjadi sarana yang tepat untuk melestarikannya. Hal ini dikarenakan, karakteristik dari komunikasi di dunia maya yang bersifat terbuka. Kondisi ini memungkinkan siapa saja dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga khazanah bangsa tersebut tanpa terkendala ruang dan waktu.
Dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk membumikan (kembali) basa sunda, diharapkan warisan budaya yang sangat berharga itu pun tetap lestari. Dengan demikian, basa sunda sebagai salah satu identitas urang sunda pun tetap melekat pada diri mereka.(Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Desember 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar