Kamis, 15 Januari 2015

Utamakan Jalur SBMPTN


Seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN) yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan, hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah maupun pihak kampus untuk mendapatkan calon mahasiswa yang benar-benar layak duduk di bangku kuliah. Kualitas proses seleksi yang dilakukan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap output yang dihasilkan. Oleh karena itu, menyaring calon-calon mahasiswa seobjektif mungkin merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Berdasarkan pengalaman tahun lalu, ada tiga jalur yang digunakan sebagai tiket masuk PTN. Pertama, jalur undangan. Jalur undangan atau yang lebih dikenal dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) merupakan jalan yang dapat diambil oleh calon mahasiswa tanpa melalui tes (tulis). Adapun yang dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak PTN antara lain : nilai raport, nilai Ujian Nasional (UN) serta prestasi yang pernah diraih. Kuota yang disediakan melalui jalur ini pun cukup besar yakni 50 persen dari jumlah kursi yang tersedia di PTN tersebut.
Kedua, jalur tes tulis. Jalur yang kedua ini dikenal dengan istilah Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Mereka yang tidak lolos melalui jalur pertama, dapat kembali berusaha dengan mengikuti tes tulis yang dilaksanakan secara serentak. Sayangnya, kuota yang disediakan melalui jalur ini tidak lebih dari 30 persen dari jumlah kursi yang tersedia. Padahal, jalur yang kedua ini dinilai lebih objektif dalam menyeleksi calon mahasiswa dibandingkan dengan jalur yang pertama.
Ketiga, jalur mandiri. Merupakan jalur penerimaan yang sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing PTN. Dalam hal ini setiap PTN diperkenankan untuk melakukan seleksi melalui tes tulis sesuai dengan standar soal yang dibuatnya. Oleh karena itu, tingkat kesulitan soal pun berbeda untuk setiap PTN. Selain itu kuota yang disediakan pun tidak lebih dari 20 persen.
Dalam pandangan penulis, proses seleksi yang paling rendah kualitasnya adalah jalur yang pertama. Selain karena pelaksanaan UN yang hingga kini masih diragukan tingkat kejujurannya, proses manipulasi nilai raport di tingkat sekolah secara massal pun menjadi bagian dari “ikhtiar” yang tak dapat dihindarkan. Di samping itu, banyaknya anak kepala sekolah yang mendapatkan undangan melalui jalur yang pertama ini, semakin menimbulkan kecurigaan masyarakat akan adanya nepotisme dalam proses seleksi tersebut.
Adapun jalur yang dinilai paling tinggi tingkat objektivitasnya adalah jalur yang kedua. Selain hampir tidak ada celah untuk melakukan kecurangan, jalur tes tulis ini telah terbukti selama bertahun-tahun menghasilkan lulusan yang berkualitas sekaligus memiliki integritas. Tak heran apabila para pemerhati dan praktisi pendidikan pun menyarankan pemerintah untuk lebih mengutamakan jalur ini dibandingkan dua jalur lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, sudah saatnya pemerintah memberikan porsi yang lebih besar untuk jalur SBMPTN dalam menyeleksi calon-calon mahasiswanya. Dengan demikian, diharapkan akan terpilih putra-putra terbaik bangsa yang benar-benar siap untuk dididik menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, 13 Januari 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar