Senin, 09 Maret 2015

Menghidupkan (Kembali) Perpustakaan Sekolah


Laporan UNESCO yang menyatakan bahwa indeks membaca orang Indonesia baru mencapai 0,001 % hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Laporan yang dirilis pada tahun 2012 tersebut juga menyebutkan bahwa Indonesia terpaut jauh dari Singapura dan Hongkong yang memiliki indeks membaca mencapai 0,55 %. Artinya, jika di Indonesia satu buku dibaca oleh seribu orang, maka di kedua negara tersebut seribu orang sedikitnya membaca 550 buku. Hal ini tentunya berpengaruh pula terhadap minat menulis masyarakat kita yang juga kurang menggembirakan.
Adapun pangkal persoalan utama rendahnya minat membaca tersebut antara lain karena kurang berfungsinya perpustakaan sebagai jantungnya sekolah. Perpustakaan yang ada cenderung tidak dikelola dengan baik sehingga terkesan kurang dibutuhkan oleh siswa. Mereka datang ke perpustakaan hanya demi mendapatkan referensi untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, selebihnya mereka mereka pun jarang datang lagi. Selain itu kondisi perpustakaan yang tidak terawat semakin membuat siswa malas untuk berkunjung.
Akibatnya, perpustakaan pun tak lagi menjadi tempat favorit siswa untuk membaca dan berdiskusi namun lebih terlihat seperti toko buku yang buku-bukunya masih disegel dengan rapih. Lebih menghawatirkan lagi, tak jarang perpustakaan menjadi sarang cakcak, cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa. Alhasil, budaya literasi yang (seharusnya) merupakan cirri khas seorang pembelajar pun tak nampak lagi.
Untuk memperbaiki kondisi semacam ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah. Pertama, menciptakan atmosfer membaca yang nyaman. Dalam hal ini, sekolah bisa menata ruang perpustakaan senyaman mungkin sehingga siswa betah berlama-lama diperpustakaan. Selain itu, lokasi perpustakaan sebaiknya agak jauh dari keramaian seperti kantin sekolah maupun lapangan olahraga. Hal ini agar bertujuan agar tercipta suasana tenang yang tidak mengganggu kegiatan membaca siswa.
Kedua, menyediakan buku-buku baru terutama yang isinya berkenaan langsung dengan kehidupan siswa sehari-hari tentu akan sangat menarik perhatian siswa. Selain itu, tersedianya buku-buku yang sesuai dengan minat siswa diharapkan akan membuat mereka untuk rajin mengunjungi perpustakaan. Untuk itu, diperlukan political will yang kuat dari pihak sekolah karena hal ini akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pimpinan sekolah yang disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang dimiliki.
Ketiga, membuat slogan-slogan yang berisi pesan edukatif dengan bahasa yang menarik. Slogan-slogan ajakan membaca tersebut dapat ditempel disetiap sudut-sudut sekolah, mulai dari gerbang utama, depan kelas, maupun didepan lapangan sekolah. Dengan seringnya siswa melihat slogan-slogan ini,diharapkan dapat meningkatkan motivasi mereka untuk membaca.
Dengan adanya upaya-upaya tersebut kita berharap akan tercipta sebuah generasi yang gemar membaca. Dengan begitu kita pun akan mampu mengejar ketertinggalan dari bangsa lainnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.(Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal Februari 2015)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar