Minggu, 19 April 2015

Orientasi Kuliah




           
Siswa yang saat ini tengah duduk di bangku kelas XII SMA maupun SMK nampaknya harus bersiap untuk meninggalkan almamaternya dalam rangka menjalani kehidupan barunya sebagai mahasiswa.  Persiapan pun dilakukan oleh Kemenristek Dikti bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) guna mennyambut para calon pembaharu tersebut di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, terdapat tiga jalur yang dapat ditempuh oleh para siswa, yaitu SNMPTN, SBMPTN dan UM. Selain itu beberapa komponen seperti nilai Ujian Nasional (UN), hasil akreditasi sekolah serta rekam jejak alumni sekolah tersebut di PTN yang dituju, akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kelulusan mereka.
            Di sisi lain tingginya jumlah pengangguran terdidik menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi oleh bangsa yang besar ini. Jumlah lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan setiap tahunnya, ternnyata tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Akibatnya, perguruan tinggi pun tak jarang dijadikan kambing hitam karena dianggap hanya mampu melahirkan para pengangguran yang menjadi beban bagi masyarakat. Padahal, persoalan yang sebenarnya bukan karena perguruan tinggi tidak mampu menyalurkan para lulusannya, melainkan tidak jelasnya orientasi yang dimiliki oleh para mahasiswa saat mereka memutuskan untuk  duduk di bangku kuliah.
            Jika kita amati, kebanyakan siswa yang memilih PTN tertentu terutama PTN favorit ternyata lebih dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyandang status mahasiswa di kampus tersebut, bukan untuk menimba ilmu untuk dapat meraih cita-citanya. Mereka cenderung lebih memilih brand dibandingkan jurusan yang diminati. Tak heran apabila strategi yang mereka gunakan pun adalah dengan cara memilih jurusan-jurusan yang sepi peminat dengan harapan mereka bisa lolos sekalipun jurusan tersebut tidak sesuai dengan keinginan mereka
   Akibatnya, menuntut ilmu diperguruan tinggi pun tidak lagi menjadi tujuan para mahasiswa. Yang ada didalam pikiran mereka hanyalah “status” sebagai mahasiswa perguruan tinggi tersebut atau dengan kata lain nu penting gaya.   Akibatnya, proses pembelajaran  di kampus selama kurang lebih lima tahun pun tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tak heran saat mereka lulus, bidang pekerjaan yang mereka geluti pun tak jarang jauh dari disiplin ilmu yang mereka ambil pada waktu kuliah.
            Adanya sarjana pertanian yang bekerja sebagai Teller di Bank atau sarjana hukum  yang menjadi pedagang di pasar merupakan fenomena yang tak terbantahkan.  Yang lebih tragis lagi, tidak sedikit dari lulusan perguruan tinggi kita yang menjadikan profesi pendidik sebagai pilihan terakhir karena tidak ada lagi lapangan pekerjaan yang tersedia. Tak heran apabila kualitas kinerja mereka pun jauh dari memadai. Sarjana-sarjana seperti ini tentulah bukan tipe sarjana yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bangsa ini sudah terlalu lama “berpuasa” untuk mendapatkan orang-orang yang kompeten dibidangnya.
            Berdasarkan gambaran di atas, ada baiknya para calon mahasiswa tersebut sejak awal menentukan orientasinya untuk duduk di bangku kuliah. Mengambil jurusan yang benar-benar diminati jauh lebih penting dari sekedar menyandang gelar mahaiswa di perguruan tinggi favorit. Dalam hal ini sekolah diharapkan mampu meyakinkan para siswanya bahwa status perguruan tinggi  bukanlah penentu kesuksesan mereka di kemudian hari, akan tetapi kerja keras merekalah yang akan mengantarkan mereka ke puncak kesuksesan.  Dengan demikian, diharapkan di masa yang akan datang tidak lagi ditemukan sarjana-sarjana yang melakukan tindakan “mal praktik”.    (Dimuat di Harian Umum Republika, Edisi 19 April 2015)
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar