Senin, 11 Mei 2015

Kemuliaan Guru Sebagai Awal Kebangkitan Pendidikan Nasional



Cara kita memperlakukan guru hari ini adalah cermin cara kita memperlakukan persiapan masa depan bangsa ini. Oleh karena itu, untuk melahirkan generasi unggul yang mampu meraih (kembali) harkat dan martabat bangsa ini, tak ada jalan lain selain  memuliakan para guru. Itulah yang diungkapkan oleh Mendikbud dalam sambutannya saat memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November tahun lalu. Mendikbud pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam upaya memuliakan guru di tanah air.
            Adapun sebagai langkah awal untuk menyiapkan masa depan bangsa tersebut, Mendikbud pun meluncurkan sebuah program yang bernama “Gerakan Hormati Gurumu”. Program ini pada dasarnya merupakan sebuah ajakan kepada masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan penghormatan  kepada guru dengan cara memberikan keistimewaan dalam hal-hal tertentu kepada guru. Mulai dari menghimbau toko-toko (buku) untuk memberikan diskon khusus bagi guru, sampai dengan seruan kepada maskapai-maskapai penerbangan untuk memberikan kemudahan kepada guru saat akan melakukan perjalanan.  Melalui gerakan tersebut, diharapkan para guru dapat lebih optimal dalam menjalankan tugas-tugasnya.
            Apa yang dilakukan oleh Mendikbud tersebut sudah selayaknya kita dukung penuh. Dengan menempatkan guru pada poisisi yang mulia, sesungguhnya bangsa ini tengah “berinvestasi” untuk masa depan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan, maju atau tidaknya sebuah bangsa tidak (hanya) ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam yang dimiliki, melainkan berapa banyak sumber daya manusia berkualitas yang ada di negara tersebut. Dalam hal ini guru bertanggungjawab untuk mencetak insan-insan berkualitas yang dimaksud. Namun demikian, semua itu hanya dapat dilakukan apabila masing-masing pihak  berperan aktif dalam upaya memuliakan guru tersebut.
            Sebagai pihak yang diberikan mandat oleh rakyat, pemerintah pusat maupun daerah berkewajiban untuk memenuhi seluruh kebutuhan guru terutama yang berkaitan langsung dengan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Dalam hal ini terpenuhinya sarana dan prasarana pembelajaran secara memadai, merupakan syarat mutlak tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu dengan menjamin kesejahteraan guru, kualitas pembelajaran pun akan lebih terjamin karena guru akan lebih fokus dalam menjalankan tugasnya. Guru (honorer) tidak perlu lagi merangkap jabatan sebagai tukang ojek maupun pedagang asongan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
            Adapun masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam membantu guru untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Memberikan kemudahan ataupun keistimewaan kepada guru seperti yang telah penulis sebutkan di atas, merupakan langkah nyata dalam upaya mendukung tercapainya cita-cita bangsa. Di samping itu orangtua pun diharapkan berpartisipasi aktif dalam upaya mendidik anak seperti halnya yang dilakukan oleh guru di sekolah. Tanpa adanya dukungan dari masyarakat tersebut, sangat sulit bagi guru untuk melangkah dalam rangka memenuhi kewajibannya.
            Selain adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat, yang jauh lebih penting adalah upaya dari guru yang bersangkutan untuk memuliakan dirinya sendiri. Berusaha untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, sampai dengan berupaya untuk tidak (selalu) mengeluh tentang kecilnya pendapatan yang diperoleh merupakan upaya-upaya yang harus dilakukan oleh guru dalam menjaga kehormatannya. Tak hanya itu, guru pun diharapkan mampu untuk hadir dalam memberikan solusi di saat peserta didiknya mengalami  permasalahan akademik maupun non akademik.  Dengan demikian, guru pun akan mampu berdiri tegak sebagai sosok yang disegani sekaligus dicintai sehingga mampu menghiasi wajah dunia pendidikan kita menjadi lebih baik.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar