Minggu, 12 Juli 2015

Rokok dan Ancaman Masa Depan Generasi Emas

Semakin banyaknya remaja yang menjadikan rokok sebagai “teman setia” di sela-sela aktivitasnya membuat pemerintah khawatir akan masa depan para generasi penerus bangsa tersebut. Maraknya iklan rokok dalam berbagai atribut yang terpasang bebas di sekitar lingkungan sekolah, menjadikan siswa semakin sulit untuk melepaskan diri jeratan para produsen rokok. Slogan yang berbunyi “remaja hari ini adalah pelanggan di masa yang akan datang” rupanya benar-benar diaplikasikan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan semata tanpa mau memikirkan nasib bangsa yang besar ini di masa yang akan datang.
            Meningkatnya konsumsi rokok di kalangan usia produktif memang menjadi salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hasil riset terbaru yang dirilis oleh Komunitas Anti Rokok Indonesia (KARI) menunjukkan bahwa kebiasaan merokok di kalangan remaja telah dimulai saat mereka berusia antara 9 sampai 12 tahun. Saat ini sebanyak 1.100 juta remaja di dunia tercatat sebagai perokok aktif dimana 45 persennya adalah kalangan pelajar. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring gencarnya para produsen rokok yang terus berupaya untuk menjadikan remaja sebagai target utama calon pelanggan setia mereka.
            Di sisi lain sekolah ataupun kampus rupanya belum mampu berbuat banyak dalam melindungi anak didiknya dari bahaya rokok. Selain tidak adanya materi khusus tentang bahaya tembakau yang tercantum dalam struktur kurikulum, “kedermawanan” para produsen rokok dalam mensponsori berbagai kegiatan sekolah menjadi alasan utama bagi pihak sekolah untuk tetap mengizinkan perusahaan rokok mengibarkan panji-panjinya di lingkungan sekolah. Tak hanya itu, royalnya para produsen rokok dalam menggelontorkan beasiswa bagi kalangan mahasiswa seakan memberikan kesan bahwa (perusahaan) rokok memiliki andil besar terhadap keberhasilan putra-putra bangsa dalam meraih cita-citanya.
            Menyikapi kondisi seperti di atas, Kemendikbud pun kini tengah menyusun aturan ketat terkait izin pemasangan iklan rokok  di sekitar lingkungan sekolah. Dalam aturan tersebut akan dicantumkan jarak minimal dari lingkungan sekolah yang diperbolehkan untuk dipasang iklan rokok dalam berbagai atribut. Di samping itu Kemendikbud pun akan berupaya untuk melakukan penguatan karakter siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan lingkungan sehat tanpa asap rokok. Melalui upaya tersebut diharapkan para siswa memiliki kesadaran akan bahaya rokok bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang.

            Selain pemerintah pusat dan pihak sekolah, pemerintah daerah pun memiliki andil besar dalam melahirkan generasi muda yang sehat secara jasmani. Kebijakan gubernur Jawa Barat yang melarang para kepala sekolah merokok di dalam lingkungan sekolah sudah selayaknya dijadikan contoh oleh daerah-daerah lainnya. Kepala sekolah sudah seharusnya memberikan teladan bagi guru  maupun peserta didiknya dalam menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan demikian, lahirnya generasi emas seperti yang dicita-citakan pun dapat benar-benar terwujud. (Dimuat di Harian Umum Republika, 12 Juli 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar