Jumat, 24 Juli 2015

Saatnya Guru Kembali ke Fitrah


Bulan suci ramadhan yang penuh berkah dan ampunan itu baru saja meninggalkan kita. Hari kemenangan pun datang dan “menyapa“ mereka yang berhasil melewati ujian selama sebulan penuh. Setelah memenuhi kewajibannya menjalankan ibadah puasa, setiap muslim dinyatakan kembali kepada fitrahnya sebagai insan yang bersih jiwanya ibarat bayi yang baru dilahirkan.
Bulan ramadhan pada hakikatnya merupakan bulan pendidikan (tarbiyyah). Pada bulan ini setiap manusia dididik untuk senantiasa menjalankan perintah agama serta menjauhi larangannya. Bagi seorang pendidik, ramadhan merupakan masa dimana mereka belajar untuk memperbaiki diri sebelum mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya. Adapun Idul Fitri sejatinya merupakan gerbang awal sekaligus ujian bagi para pendidik yang akan menentukan apakah proses pendidikan yang dijalaninya selama sebulan penuh tersebut benar-benar memberikan dampak positif dalam kehidupan setelahnya.
Datang kesiangan, tidak menyiapkan perangkat pembelajaran serta sering pulang sebelum waktunya merupakan “dosa profesi” yang biasa dilakukan oleh para guru kita di luar bulan suci ramadhan. Selain itu, sikap selalu mendahulukan hak daripada kewajiban seakan masih mewarnai perjalanan hidup sebagian pendidik kita. Tak heran apabila kualitas maupun integritas generasi yang dihasilkan pun masih jauh dari harapan.
Tawuran antar pelajar, pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba seakan menjadi pemandangan rutin yang biasa kita saksikan di layar kaca. Remaja yang sejatinya diharapkan mampu menjadi generasi penerus untuk melanjutkan jalannya pembangunan di masa yang akan datang, malah menjadi beban bagi masyarakat. Berbagai penyakit pun mulai menggerogoti mereka dan pada akhirnya APBN pun terkuras untuk membiayai pengobatan mereka.
Untuk memperbaiki wajah dunia pendidikan kita, sudah saatnya para guru kembali pada fitrahnya sebagai seorang pendidik yang benar-benar berorientasi pada kepentingan peserta didiknya. Peningkatan presatasi akademik serta pembentukan karakter siswa hendaknya menjadi prioritas utama daripada yang lainnya. Hal ini dikarenakan setiap pendidik tidak hanya bertanggungjawab kepada atasan, namun juga akan kepada Rabbnya.
Berdasarkan gambaran di atas, marilah kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan peran seorang pendidik dalam menjalankan tugas “suci” yang diberikan. Oleh karenanya, tidak sepantasnya tugas mulia ini dinodai oleh berbagai pelanggaran kode etik profesi hanya karena bulan ramadhan sudah lewat. Sebaliknya, hari-hari setelah bulan ramadhan sejatinya merupakan ajang pembuktian bahwa proses tarbiyyah yang kita lakukan selama sebulan penuh, benar-benar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian setiap pendidik pun akan mampu kembali pada fitrahnya yaitu sebagai penerang dalam gulita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar