Minggu, 30 Agustus 2015

Arti Kemerdekaan Bagi Guru


Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa ini sejak 70 tahun silam ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai persoalan yang dialami oleh para guru saat ini membuktikan bahwa mereka belum mampu membebaskan diri dari belenggu yang selama ini memasung kreativitasnya. Tak heran jika output yang dihasilkan pun masih jauh dari harapan.
Bagi seorang pendidik, kemerdekaan sendiri memiliki tiga arti penting. Pertama, merdeka dari rasa lapar. Masalah kesejahteraan guru nampaknya masih menjadi persoalan utama yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan. Tuntutan dari para guru (honorer) kepada pemerintah agar segera memperbaiki taraf hidupnya seharusnya dipandang sebagai persoalan serius, bukan sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada peserta didik sementara dia sendiri dalam keadaan lapar.
Kedua, merdeka dari kepentingan politik. Seiring diberlakukannya otonomi daerah, peran guru (PNS) sebagai abdi negara pun perlahan bergeser menjadi abdi kepala daerah. Dalam banyak kasus, tak jarang para guru dipaksa untuk menjadi tim sukses bayangan oleh calon kepala daerah yang akan bersaing. Adapun bagi mereka yang berusaha untuk menolak, ancaman mutasi serta intimidasi dari atasan pun selalu mengintai setiap saat.
Ketiga, merdeka untuk mengembangkan kreativitasnya. Kebijakan pemerintah untuk tetap memaksakan kurikulum baru bagi sekolah-sekolah yang dipandang telah siap, secara tidak langsung telah membelenggu potensi serta kreativitas para guru. Dalam hal ini guru sebagai pihak yang benar-benar memahami kondisi peserta didik seharusnya diberikan keleluasaan untuk memilih serta mengembangkan kurikulum sesuai potensi peserta didik serta sarana yang dimiliki oleh sekolah.
Mengingat pentingnya arti sebuah kemerdekaan bagi guru dalam mendidik tunas-tunas bangsa, sudah saatnya semua pihak bergerak untuk memberikan kontribusinya. Pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan tertinggi diharapkan mampu memenuhi berbagai kebutuhan yang dimiliki oleh guru. Besarnya anggaran yang dikeluarkan hendaknya dipandang sebagai sebuah investasi dan bukan beban.
Adapun pemerintah daerah hendaknya benar-benar menyadari bahwa tugas utama seorang guru adalah mendidik anak. Mendorong mereka ke dalam pusaran politik hanya akan membuat harkat dan martabat guru jatuh di hadapan masyarakat. Oleh karenanya mendukung guru agar bersikap netral merupakan keputusan yang bijak.
Selain kedua hal diatas, yang tak kalah penting adalah memberikan kepercayaan kepada guru untuk mendidik tunas-tunas bangsa sesuai dengan potensinya. Guru tentunya lebih mengetahui kurikulum mana yang sesuai digunakan di sekolah nya.
Melalui berbagai upaya diatas, kita berharap setiap guru dapat memperoleh kemerdekaan sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Dengan begitu mereka pun dapat mencurahkan segenap potensi serta kreativitasnya dalam mendidik tunas-tunas bangsa sesuai dengan yang diharapkan.

   
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar