Rabu, 05 Agustus 2015

Peningkatan Kompetensi Guru Berbasis Komunitas


Menunggu pemerintah untuk menyelenggarakan berbagai program peningkatan kompetensi guru secara berkala ibarat mengharapkan turunnya salju di musim kemarau. Minimnya anggaran yang dialokasikan dalam APBN maupun APBD menunjukkan bukti bahwa peningkatan kompetensi guru belum menjadi prioritas pemerintah (daerah) dalam upaya memperbaiki wajah dunia pendidikan di negeri ini. Pemerintah baru sebatas berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan (sebagian) pendidik melalui program sertifikasi guru yang menurut sebagian kalangan terlihat lebih mirip dengan lomba panjat pinang. Setali tiga uang, organisasi guru yang diharapkan mampu menjadi wadah untuk memperjuangkan kepentingan guru serta meningkatkan profesionalismenya, malah tak jarang menjadi kendaraan politik pihak-pihak tertentu yang ingin meraih kekuasaan.
Di tengah tingginya kebutuhan akan peningkatan kompetensi guru tersebut, berbagai komunitas guru pun lahir. Berawal dari diskusi rutin yang dilakukan oleh para guru di ruang-ruang dunia maya, mereka pun kemudian membentuk komunitas dan menyelenggarakan berbagai kegiatan di dunia nyata. Bahkan, tak jarang komunitas yang lahir di dunia maya tersebut menjadi embrio atau cikal bakal berdirinya organisasi-organisasi guru baru.
Adapun Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) merupakan salah satu dari sekian banyak komunitas guru yang memberikan perhatian penuh terhadap upaya peningkatan kompetensi guru di tanah air. Berbagai kegiatan telah sering diselenggarakan oleh komunitas yang baru menginjak usia setahun ini. Mulai dari mengajarkan guru untuk membuat blog, menyusun Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sampai dengan menyelenggarakan seminar tentang public speaking, menjadi kegiatan rutin komunitas ini dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional para guru. Seluruh kegiatan tersebut dapat diikuti oleh para guru dengan biaya yang sangat terjangkau atau bahkan gratis. Guru hanya diminta untuk menyediakan tempat serta peralatan yang diperlukan untuk menggelar sebuah pelatihan sesuai dengan kebutuhan.
Melihat besarnya kesempatan yang diberikan oleh komunitas tersebut dalam meningkatkan kompetensi para guru, tak ada alasan bagi guru untuk tidak memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya. Setiap kegiatan yang diselenggarakan hendaknya dijadikan sarana untuk meningkatkan kompetensinya. Hal ini dikarenakan dunia pendidikan bersifat dinamis yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan kurikulum (seumur jagung), perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat serta perbedaan karakteristik peserta didik dari waktu ke waktu sejatinya merupakan tantangan yang senantiasa dihadapi oleh setiap pendidik. Untuk itu diperlukan bekal yang lebih dari cukup bagi guru untuk mampu melaksanakan tugas-tugasnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis mengajak seluruh guru agar memanfaatkan keberadaan komunitas guru dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, guru pun akan dapat memperoleh “suplemen” yang cukup saat akan mendidik putra – putri terbaik bangsa di tengah ketidakmampuan pemerintah (daerah) dalam “merawat” aset yang sangat berharga ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar