Sabtu, 12 September 2015

Mengasah Daya Kritis Remaja Terhadap Media


Adanya tuntutan bagi para remaja untuk memiliki kemampuan dalam mencerna berbagai informasi yang diterima kini terjawab sudah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) saat ini tengah mencanangkan Gerakan Nasional Remaja Melek Media. Program yang dideklarasikan di kota Padang beberapa waktu lalu tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan kritis para pelajar Indonesia. Harapannya, remaja yang terdiri dari kalangan pelajar dan mahasiswa ini dapat memilih serta memilah informasi yang ada untuk kemudian memanfaatkannya dengan baik. Bahkan, dengan kemampuan yang dimilikinya tidak mustahil para pelajar akan mampu berperan sebagai produsen informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Derasnya arus informasi sebagai dampak dari pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memang menjadi hal yang tak dapat dihindarkan. Jika dahulu informasi hanya menjadi milik pengusaha media, maka hari ini siapa pun mampu menyuguhkan beragam informasi tanpa terkendala oleh ruang dan waktu. Dunia maya rupanya telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat modern untuk berinteraksi dengan sesama maupun sekedar mencari informasi yang dibutuhkan. Fenomena ini pun secara perlahan telah mampu merubah tatanan sosial serta perilaku masyarakat di kehidupan nyata.
Beredarnya berbagai informasi yang jauh dari nilai-nilai objektivitas maupun diragukan tingkat kebenarannya merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh remaja yang hidup di era digital seperti saat ini. Remaja yang tengah berada di persimpangan jalan tak jarang menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan secara politik maupun ekonomi. Pesta demokrasi lima tahunan yang digelar beberapa bulan lalu membuktikan bagaimana beragam informasi “sampah” sengaja disebarkan untuk mempengaruhi remaja yang sebagian besar belum menentukan pilihan (swing voters). Alhasil, masing-masing tim sukses kandidat pun seakan berlomba untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya dengan jalan saling menjatuhkan nama baiknya. Tak heran apabila remaja pun menganggap dunia politik sebagai dunia yang penuh noda sehingga tidak sedikit remaja yang lebih memilih untuk golput.
Mengingat pentingnya kemampuan untuk mencerna informasi bagi remaja, sudah selayaknya sekolah menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk mengasah daya kritisnya terhadap berbagai informasi yang diterima. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang eksistensi serta visi misi yang dimiliki oleh media. Tak hanya itu, guru pun diharapkan mampu merangsang siswa untuk mau menuangkan ide maupun gagasan yang dimilikinya dalam bentuk tulisan. Adapun mading sekolah maupun buletin yang terbit secara rutin bisa menjadi sarana bagi siswa untuk mengaktualisasikan dirinya maupun sekedar berbagi informasi. Pada akhirnya, diharapkan akan lahir generasi yang benar-benar mampu menyikapi berbagai fenomena yang berkembang dalam kehidupan masyarakat secara bijak.(Dimuat di Harian Umum Republika, 13 September 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar