Kamis, 10 September 2015

Menyoal Ujian Sekolah Dasar


Pemberlakuan Kurikulum Nasional (Kurnas) di sekolah-sekolah dasar percontohan mulai tahun ajaran 2015 / 2016 ini nampaknya tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Beragam persoalan nyatanya masih menyelimuti pelaksanaan kurikulum yang diklaim sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 2013 tersebut. Mulai dari belum diterimanya buku ajar, guru-guru yang belum mendapatkan pelatihan, sampai dengan ketidakjelasan evaluasi pembelajaran, mewarnai awal perjalanan kurikulum ini sebagaimana yang pernah terjadi saat Kurikulum 2013 diterapkan untuk pertama kalinya.
Adapun persoalan paling krusial terkait implementasi Kurnas di sekolah dasar tersebut adalah ketidakjelasan kurikulum yang akan dijadikan acuan dalam melaksanakan Ujian Nasional atau Ujian Sekolah bagi siswa kelas 6. Apakah US tersebut akan mengacu pada KTSP karena selama 4 tahun siswa telah meggunakannya, ataukah Kurtilas (Kurnas) yang akan dijadikan acuan dengan alasan KTSP sudah tidak lagi digunakan. Saat pihak sekolah mencoba untuk mencari kejelasan, ternyata dinas terkait pun tidak mampu memberikan jawaban yang mencerahkan. Tak heran apabila banyak pihak mulai meragukan kemampuan serta kesiapan pemerintah dalam memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini.
Bagi sekolah-sekolah tertentu yang terbiasa mengambil “jalan pintas” saat menghadapi US maupun UN, ketidakjelasan acuan semacam ini tentunya tidak akan menjadi masalah berarti. Lain halnya dengan sekolah yang benar-benar mengedepankan kejujuran dalam proses evaluasi belajar, persoalan tersebut merupakan tantangan atau bahkan batu ujian (pertama) yang tidak akan mudah untuk dilewati. Tak hanya itu, resiko lahirnya “produk gagal” pun seakan membayangi setiap langkah para guru khususnya mereka yang saat ini mengajar siswa kelas 6.
Pada kondisi yang serba tidak menguntungkan seperti ini, tak ada jalan lain bagi sekolah selain mempersiapkan siswanya untuk menghadapi soal – soal ujian berdasarkan materi yang tercantum dalam kedua kurikulum tersebut. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu menyampaikan materi KTSP dan Kurtilas (Kurnas) sekaligus. Langkah ini tentu saja akan mendatangkan konsekuensi yang tidak sederhana. Selain dibutuhkan kesiapan yang lebih dari pihak guru, siswa maupun orangtua, beberapa mata pelajaran lain khususnya muatan lokal (mulok) pun terancam “dikorbankan” untuk mengejar target yang hendak dicapai. Alhasil, proses pembelajaran pun tidak lagi berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik, melainkan diarahkan untuk mengejar nilai akademik setinggi-tingginya.
Di tengah kegalauan para guru dan orangtua, ada baiknya pemerintah segera menetapkan kurikulum yang akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan ujian sekolah untuk Sekolah Dasar. Kejelasan acuan tersebut sangat dibutuhkan oleh para guru untuk membuat berbagai program dalam rangka mempersiapkan peserta didiknya agar mampu menghadapi US tahun ini. Dengan demikian, sekolah-sekolah dasar yang “disarankan” untuk menerapkan Kurikulum Nasional tahun ini benar-benar mampu menjadi sekolah percontohan, bukan “kelinci percobaan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar