Selasa, 22 September 2015

Pentingnya Sinergi Antara Media dan Dunia Pendidikan



Media (massa) memiliki peranan yang sangat besar untuk membantu pemerintah dalam melakukan transformasi materi pendidikan bagi siswa. Dalam hal ini media dinilai mampu mengajak siswa untuk senantiasa berpikir rasional, kreatif, kolaboratif serta cakap saat berkomunikasi. Itulah yang diungkapkan oleh Mendikbud Anies Baswedan saat menerima kunjungan redaktur beberapa media cetak di kantor Kemendikbud beberapa waktu lalu. Menurut pria yang dikenal sebagai penggagas Program Indonesia Mengajar tersebut, media dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah untuk menyukseskan berbagai program di bidang pendidikan.
            Pada dasarnya media memiliki 4 fungsi yaitu untuk memberi informasi, fungsi edukasi (to educate), fungsi menghibur (to entertaint) dan fungsi kontrol sosial. Namun seiring berjalannya waktu nampaknya fungsi yang kedua tersebut semakin tidak terasa. Media yang ada seolah berlomba untuk menayangkan acara-acara yang memiliki rating tinggi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari sponsor. Adapun bermanfaat atau tidaknya acara tersebut bagi masyarakat, itu urusan belakangan.
            Masih beredarnya konten media yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan memang masih menjadi persoalan di negeri yang baru saja merayakan kemerdekaannya ini. Beberapa tayangan yang tidak berkualitas sempat muncul kemudian tenggelam seiring sepinya penonton.   Adapun prinsip jurnalisme pasar (market journalism) yang dianut oleh sebagian besar media saat ini menyebabkan fungsi media yang sesungguhnya semakin hari semakin tidak terlihat. Keinginan pasar perlahan tapi pasti seakan telah menggeser idealisme media.
            Kondisi ini berbanding terbalik dengan media-media di negara maju seperti Jerman. Negara dimana penulis pernah menimba ilmu tersebut telah mampu mensinergikan antara media dengan dunia pendidikan. Tayangan edukasi serta berita-berita penting lainnya mendapatkan porsi yang sangat besar, bahkan diulang-ulang setiap harinya. Melalui stasiun televisi, kalangan pelajar maupun mahasiswa dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan ban mobil mulai dari bahan mentah hingga barang jadi. Sebaliknya, tayangan – tayangan yang bersifat hiburan mendapatkan jatah tidak terlalu banyak dan hanya ditayangkan pada jam-jam tertentu.
            Untuk mensinergikan media dengan dunia pendidikan, dibutuhkan political will yang kuat dari pemerintah untuk mengatur  konten media yang ada. Dengan kewenangan yang dimilikinya, pemerintah diharapkan mampu “memaksa” media untuk memberikan porsi yang lebih besar untuk konten maupun tayangan yang mendukung terciptanya iklim belajar yang sehat. Menampilkan berbagai tayangan yang ada kaitannya dengan pembelajaran sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), diharapkan dapat lebih mendekatkan anak dengan  dunia belajar. Selain itu pemerintah pun hendaknya tidak ragu untuk menertibkan (konten) media yang  dapat merusak moral masyarakat. Dalam hal ini peran aktif Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam mengawasi dan mengatur berbagai tayangan yang beredar, akan mampu mencegah berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh media terutama stasiun televisi. 
            Namun demikian, yang jauh lebih penting  adalah kemauan dari media yang ada untuk senantiasa menyuguhkan konten yang dapat membentuk watak masyarakat (character building) ke arah yang lebih baik. Luasnya jangkauan yang dimiliki oleh media memberikan kesempatan yang besar kepada media untuk mengambil peran dalam mencerdaskan masyarakat. Dengan begitu, pada akhirnya media pun akan mampu berperan sebagai mitra strategis bagi pemerintah dan bukan duri dalam daging yang merusak moral generasi muda. 
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar