Senin, 05 Oktober 2015

Antara Prestasi, Apresiasi dan Kriminalisasi


Pemanggilan walikota Bandung Ridwan Kamil oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat beberapa waktu lalu cukup mengejutkan banyak pihak. Pria yang akrab disapa Kang Emil ini datang dalam kapasistasnya sebagai saksi terkait dana hibah yang diterimanya saat memimpin Bandung Creative City Forum (BCCF) pada tahun 2012 lalu. Saat itu komunitas kreatif yang dipimpinnya tersebut menerima dana hibah sebesar 1,3 milyar yang kemudian digunakan untuk berbagai kegiatan. Emil sendiri mengaku bahwa seluruh penggunaan dana tersebut telah dilaporkan ke Bagian Perekonomian Kota Bandung pada tahun 2013 serta dinyatakan tidak bermasalah oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Sama halnya dengan Ridwan Kamil, beberapa pekan sebelumnya Kejaksaan Agung melayangkan surat panggilan kepada Ricky Elson. Pemuda yang dikenal sebagai salah satu pelopor mobil nasional dan pernah mengharumkan nama bangsa melalui karyanya dalam ajang KTT APEC di Bali pada tahun 2013 tersebut, dipanggil sebagai saksi untuk kasus yang membelit rekan seprofesinya, Dasep Ahmadi. Dasep merupakan tersangka kasus korupsi pengadaan 16 mobil listrik untuk tahun anggaran 2013 yang kini telah ditahan oleh pihak Kejagung. Namun, “undangan” Kejagung tersebut dijawab Elson dengan sebuah pantun yang kemudian diunggah melalui akun facebook nya.
Apa yang dialami oleh Emil maupun Elson tentunya menjadi sebuah ironi di negeri yang tengah berupaya untuk bangkit dari keterpurukan ini. Prestasi yang ditorehkan oleh putra - putra terbaik bangsa itu bukannya diganjar dengan apresiasi yang setinggi-tingginya, namun dibalas dengan (upaya) kriminalisasi yang justru dapat mematikan potensi serta karier mereka. Padahal, jasa kedua putra bangsa tersebut dalam membangun bangsa ini begitu besar sehingga layak apabila disebut para pahlawan masa kini.
Sepanjang perjalanan kariernya, beragam penghargaan dalam dan luar negeri berhasil diraih oleh Ridwan Kamil. Mulai dari Urban Leadership Award (USA), Top Ten Architecture Business Award (BCI Asia), sampai dengan Google Chrome Web Heroes untuk Indonesia Berkebun diperolehnya dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Tak hanya itu, berkat kemampuannya dalam mempercantik wajah kota Bandung serta keberhasilannya melakukan reformasi birokrasi, Bandung pun terpilih sebagai tuan rumah peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia pada tahun ini.
Adapun Elson, pemuda enerjik yang dijuluki “Putra Petir” merupakan salah satu putra bangsa yang berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah Internasional. Pemuda kelahiran Padang ini merupakan pemegang belasan hak paten di bidang motor listrik saat berkarya di negara Jepang. Kiprahnya di negeri sakura tersebut membuat Dahlan Iskan berupaya keras membujuknya untuk mengembangkan mobil listrik di tanah air saat beliau menjabat Menteri Negara BUMN. Alhasil, mobil listrik model Supercar buatan Eropa pun berhasil mengaspal di jalan dan mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat.
Sayangnya, bunga-bunga bangsa yang tengah mekar itu harus gugur akibat ambisi pihak-pihak tertentu yang ingin memperoleh kekuasaan maupun menjaga kepentingan ekonominya. Sosok Ridwan Kamil yang begitu dikagumi oleh rakyat karena kinerjanya yang sangat baik namun sedikit bicara, dianggap sebagai ancaman bagi mereka yang (mungkin) akan mencalonkan diri dalam pesta demokrasi untuk level yang lebih tinggi. Adapun Ricky Elson, pemuda yang telah menginspirasi generasi muda untuk mampu berdikari, dikhawatirkan dapat menganggu kepentingan ekonomi negara asing yang telah menancapkan kuku-kukunya di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun. Dengan kata lain, saat bangsa ini mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, ada pihak lain yang akan kehilangan mata pencahariannya.
Fenomena (upaya) kriminalisasi terhadap orang-orang yang justru telah menunjukkan prestasi di bidangnya sebenarnya bukanlah hal baru. Kasus dugaan pembunuhan berencana yang dituduhkan kepada mantan ketua KPK Antasari Azhar sejatinya merupakan bentuk perlawanan yang dilancarkan oleh para konglomerat hitam maupun politisi busuk. Sepak terjang Antasari saat memimpin lembaga anti rasuah itu memang membuat mereka tak leluasa untuk bergerak. Tak tanggung-tanggung, mulai dari kepala daerah, anggota DPR, pejabat BUMN sampai dengan para pengusaha curang berhasil dijeratnya. Namun, langkah berani pahlawan anti korupsi tersebut harus terhenti manakala beliau tengah mengusut sebuah mega skandal yang diduga melibatkan pejabat penting saat itu. Pada akhirnya, Antasari pun terpaksa dijadikan “tumbal” demi mengamankan “kepentingan negara” yang lebih besar.
Berkaca dari pengalaman ketiga tokoh di atas, tak heran apabila banyak yang berpendapat bahwa bangsa yang besar ini “belum” begitu membutuhkan orang-orang cerdas dan ahli di bidangnya. Bangsa yang tengah belajar berdemokrasi ini lebih memerlukan orang-orang yang hanya mampu membuat sebuah website asal-asalan dengan dana yang fantastis. Semakin banyaknya putra-putra bangsa yang lebih memilih untuk berkiprah di negeri orang pada dasarnya disebabkan oleh ketidakmampuan atau bahkan ketidakinginan pemerintah saat ini untuk menghargai hasil karya mereka. Dalam hal ini makna nasionalisme pun seharusnya menjadi bahan pemikiran pemerintah sendiri, bukan para ilmuwan kita yang tengah berkarya di negara lain.
Keberhasilan Ridwan Kamil dalam menata kota Bandung maupun kegigihan Ricky Elson dalam membangkitkan semangat generasi muda untuk berkarya bisa jadi diganjar dengan tiket untuk masuk penjara. Namun, seperti kata pepatah, berlian tetaplah berlian sekalipun ia berada dalam kubangan lumpur. Masyarakat akan tetap memandang mereka sebagai pahlawan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan bangsanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar