Kamis, 15 Oktober 2015

Kabut Asap dan Ujian Nasional Serentak


Kebakaran hutan yang melanda sebagian wilayah Indonesia seakan telah melumpuhkan kehidupan masyarakat di berbagai sektor, termasuk bidang pendidikan. Beberapa daerah terpaksa meliburkan siswanya selama satu bulan atau bahkan lebih akibat polusi udara yang telah mencapai level sangat berbahaya. Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap persiapan Ujian Nasional (UN) yang tengah dilakukan oleh para siswa. Usulan untuk menunda pelaksanaan UN pun dikemukakan oleh sekolah-sekolah yang terkena dampak kabut asap tersebut. Tak hanya itu, beberapa siswa serta kepala sekolah memberanikan diri untuk membuat surat terbuka kepada presiden agar segera turun tangan untuk menyelesaikan masalah kabut asap yang telah menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat.
Pelaksanaan UN yang tinggal beberapa bulan lagi memang tengah menjadi fokus perhatian sekolah saat ini. Sekalipun nilai UN tersebut tidak lagi dijadikan patokan dalam menentukan kelulusan siswa, hal ini tetap berpengaruh terhadap proses seleksi siswa pada jenjang pendidikan selanjutnya. Siswa dengan nilai UN cukup tinggi tentunya lebih berpeluang untuk diterima di sekolah lanjutan maupun perguruan tinggi favorit.
Di sisi lain terganggunya proses kegiatan belajar mengajar akibat pekatnya kabut asap sebaiknya menjadi catatan bagi pemerintah dalam melaksanakan UN tahun 2016 mendatang. Siswa yang tinggal di daerah-daerah bencana tidak seharusnya diperlakukan sama dengan mereka yang berada di lingkungan kondusif. Dalam hal ini diperlukan sebuah kebijakan strategis yang mampu mengakomodir kepentingan bersama sehingga tidak ada siswa yang merasa dirugikan.
Adapun terkait usulan untuk menunda pelaksanaan UN pada tahun ajaran ini nampaknya dapat dijadikan salah satu solusi yang layak untuk dipertimbangkan. Memaksakan UN secara serentak sesuai dengan yang telah direncanakan tentunya hanya akan menghasilkan kompetisi yang tidak sehat. Selain itu para guru akan berlomba untuk menyampaikan materi sebanyak-banyaknya demi mengejar ketertinggalan sehingga siswa akan merasa terbebani. Pada akhrinya, motivasi belajar siswa pun akan semakin berkurang akibat adanya tekanan untuk segera menguasai materi.
Untuk menjaga semangat belajar siswa, ada baiknya apabila pemerintah meninjau kembali jadwal pelaksanaan UN khusus untuk daerah-daerah yang terkena bencana kabut asap. Memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk mempelajari materi-materi yang belum tersampaikan, diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi mereka untuk dapat bersaing secara sehat dengan siswa yang tinggal di daerah lainnya. Adapun untuk soal UN yang akan diujikan, sebaiknya pemerintah mempersiapkan soal khusus dengan bobot yang relatif sama. Dengan demikian, tidak ada pihak yang akan dirugikan akibat dari ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar