Rabu, 21 Oktober 2015

Mencetak Generasi Kreatif dan Inovatif



Keunggulan sebuah negara sebagian besar (45 persennya) ditentukan oleh kreativitas warganya serta berbagai inovasi yang mereka hasilkan. Sedangkan faktor jaringan yang kuat dan teknologi yang dimiliki masing-masing memberikan kontribusi sebesar 25 dan 20 persen bagi kemajuan negara tersebut. Adapun kekayaan alam yang selama ini dianggap sebagai faktor penentu kemakmuran rakyat ternyata hanya menyumbangkan 10 persen dalam membangun sebuah bangsa yang benar-benar unggul. Itulah gambaran yang penulis dapatkan saat mengikuti kegiatan Seminar dan Lokakarya Strategi Pendampingan Kepala Sekolah Terhadap Guru dalam Implementasi Kurikulum 2013 pada SD dan SMP di Kecamatan Subang beberapa waktu lalu. Data tersebut merupakan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 1995 terhadap 150 negara yang diteliti.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia ? Pada tahun 2014 yang lalu, The Learning Curve Pearson, sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, ternyata menempatkan Indonesia pada posisi juru kunci. Dengan indeks - 1,84, Indonesia bertengger di urutan ke – 40, paling rendah se- Asia Tenggara serta berada di bawah Meksiko, Brazil dan Kolumbia. Hal ini tentu saja menjadi sebuah ironi di tengah melimpahnya jumlah tenaga guru serta semakin meningkatnya anggaran pendidikan dari waktu ke waktu. Pada tahun lalu saja anggaran untuk pendidikan naik sebesar 7,5 persen dari Rp 345,3 triliun menjadi Rp 371,2 triliun atau setara dengan 20,67 persen APBN.
Jika kita cermati lebih jauh, salah satu faktor penyebab kegagalan pemerintah dalam melahirkan generasi unggul tersebut adalah minimnya program peningkatan kompetensi bagi para guru. Jumlah tenaga guru yang mencapai 3 juta lebih rupanya tidak benar-benar dikelola dengan baik oleh pemerintah. Padahal, kompetensi yang dimiliki oleh guru akan sangat menentukan kualitas lulusan yang dihasilkan. Dengan kata lain, siswa kreatif dan inovatif hanya dapat dilahirkan oleh guru-guru yang kreatif dan inovatif pula.
Selain minimnya program peningkatan kompetensi guru, faktor lain yang menjadi hambatan dalam melahirkan generasi unggul adalah pembagian porsi yang tidak seimbang antara gaji tenaga pendidik dengan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Dari total anggaran yang disediakan, ternyata 70 persennya habis digunakan untuk gaji guru ditambah dengan dana sertifikasi serta tunjangan lainnya. Celakanya lagi, tunjangan sertifikasi yang selama ini diterima oleh para pendidik tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan kinerja mereka. Program sertifikasi guru yang telah digulirkan sejak beberapa tahun silam itu baru sebatas meningkatkan “taraf hidup” (sebagian) pendidik dan meningkatkan minat masyarakat untuk terjun menjadi seorang pendidik.
Untuk dapat melahirkan generasi unggul seperti yang dicita-citakan, melaksanakan program-program yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru secara konsisten mutlak dilaksanakan. Dalam hal ini proses pendampingan terhadap guru menjadi bagian penting dari upaya peningkatan kompetensi tersebut. Di samping itu perbaikan infrastruktur serta sumber pembelajaran hendaknya menjadi perhatian pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun anggaran. Dengan demikian, guru pun akan mampu mengembangkan kreativitasnya sehingga lahirnya generasi kreatif dan inovatif benar-benar dapat terwujud.(Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal Oktober 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar