Rabu, 07 Oktober 2015

Pasal Kretek dan Generasi Pecandu

Kinerja para wakil rakyat yang kini tengah duduk di gedung parlemen nampaknya semakin hari kian memprihatinkan. Setelah “gagal” dalam mengawasi dan mengevaluasi berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, kini mereka justru berupaya untuk menggolkan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) yang berpotensi merusak masa depan generasi muda. Demi memenuhi hasrat politik dan kepentingan ekonomi partai yang menaunginya, mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat maupun konstituen yang telah memilihnya. Reaksi pun bermunculan menyikapi usulan anggota dewan yang (dianggap) sedang membuka jalan bagi para pengusaha tersebut.
Adalah RUU Kebudayaan, sebuah draf yang saat ini menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat maupun sesama anggota dewan sendiri. Adanya usulan untuk memasukkan kretek tradisional sebagai salah satu warisan budaya yang harus dihargai, diakui serta dilindungi oleh pemerintah dan pemerintah daerah, disinyalir sebagai bagian dari upaya para produsen rokok untuk dapat memperoleh keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan kerugian yang akan dialami oleh bangsa ini.
Jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar memang menjadi pasar yang cukup menjanjikan bagi para produsen rokok domestik maupun luar negeri. Tak hanya itu, bonus demografi yang akan segera diperoleh oleh bangsa ini pun seakan dijadikan kesempatan untuk melakukan “regenerasi” perokok. Slogan yang berbunyi “remaja hari ini adalah pelanggan di masa yang akan datang” rupanya benar-benar diaplikasikan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan semata tanpa mau memikirkan nasib bangsa yang besar ini di masa yang akan datang
Dalam pandangan penulis, apabila draf RUU tersebut disetujui oleh pemerintah untuk kemudian dijadikan undang-undang, dapat dipastikan akan berdampak pada meningkatnya jumlah perokok aktif di kalangan remaja. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas generasi muda kita di masa yang akan datang. Mereka yang seharusnya berperan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa yang besar ini, terpaksa harus layu sebelum berkembang.
Berdasarkan data yang dimiliki oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS), sebanyak 190.260 Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat rokok. Artinya dalam sehari ada 500 orang lebih yang meninggal dunia akibat menjadi perokok aktif maupun pasif. Ironisnya, sebagian besar dari perokok aktif tersebut adalah mereka yang masih tergolong usia produktif seperti kalangan pelajar dan mahasiswa. Bonus demografi yang akan diterima pun tidak mustahil akan berubah menjadi musibah demografi.
Untuk mencegah berkembangnya “generasi pecandu” tersebut, dibutuhkan itikad baik dari pemerintah maupun DPR untuk mampu menghasilkan aturan-aturan yang mampu melindungi warganya dari bahaya rokok. Revisi terhadap Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, mutlak dilakukan karena UU tersebut hanya mampu melindungi anak dari kejahatan fisik maupun seksual, namun tidak untuk “kekerasan” yang dilakukan secara halus oleh para produsen rokok. Selain itu sekolah pun diharapkan dapat memberikan edukasi sejak dini akan bahaya yang dtimbulkan akibat mengkonsumsi tembakau. Dengan demikian, bonus demografi yang akan diterima oleh bangsa ini pun benar-benar dapat memberi manfaat , bukan sebaliknya. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi 07 Oktober 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar