Kamis, 29 Oktober 2015

Tantangan Generasi Digital



Sabanda, Sariksa, Sa – TIK “. Itulah tema yang diangkat dalam acara Festival Teknologi Informasi (TIK) 2015 yang digelar di Sasana Budaya Ganesha Bandung akhir bulan mei lalu. Kegiatan yang  digelar setiap tahun tersebut bertujuan untuk mendorong literasi dan edukasi kepada para pengguna TIK sehingga tercipta masyarakat cerdas yang mampu memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik. 
            Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini memang tengah menjadi fenomena  yang perlu disikapi dengan bijak. Pemanfaatan TIK di berbagai bidang kehidupan terbukti membantu masyarakat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, tak terkecuali dunia pendidikan. Beragam inovasi maupun efisiensi berhasil dicapai berkat adanya teknologi ini. Pembuatan pangkalan data guru dan siswa (Dapodik), ujian (nasional) berbasis komputer (CBT) serta penyusunan bahan ajar melalui E-Learning merupakan contoh dari sekian banyak pemanfaatan TIK di bidang pendidikan.
            Namun demikian, sebagaimana teknologi lainnya TIK pun memiliki dampak negatif yang cukup dahsyat apabila digunakan oleh orang-orang yang tidak mengenal nilai maupun norma. Munculnya modus-modus kejahatan baru maupun tindakan asusila yang memanfaatkan ruang-ruang dunia maya sebagai medianya menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik dalam menanamkan nilai-nilai etika kepada para penggunanya yang didominasi oleh kalangan remaja. Dalam hal ini setiap pendidik berkewajiban untuk mengarahkan anak didiknya agar memanfaatkan TIK dengan sebaik-baiknya.
            Di sisi lain dihapuskannya mata pelajaran TIK dalam struktur Kurikulum 2013 maupun KTSP menjadi persoalan tersendiri bagi mereka yang saat ini masih duduk di bangku sekolah. Tidak adanya guru yang secara khusus memberikan arahan dan bimbingan tentang bagaimana menggunakan perangkat digital dengan baik dan benar membuat anak tidak mempunyai pegangan saat berinteraksi di dunia maya. Alhasil, berbagai pelanggaran etika, norma maupun hukum pun kerap mewarnai media sosial yang mayaoritas “dihuni” oleh kalangan remaja tersebut.
            Pembajakan hasil karya orang lain, penghinaan terhadap kelompok tertentu sampai dengan prostitusi online merupakan sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja yang dikenal dengan generasi digital (digital native) tersebut. Kurangnya pemahaman terhadap aturan hukum yang berlaku di dunia maya menjadikan mereka dengan bebasnya menggunakan teknologi yang sebenarnya dirancang untuk memudahkan pekerjaan manusia tersebut. Tak heran apabila saat ini banyak remaja yang menjadi korban maupun pelaku kejahatan yang berawal dari perkenalan mereka melalui media sosial.
            Menghadapi beratnya tantangan yang dihadapi oleh generasi digital, sudah selayaknya setiap pendidik maupun orangtua berperan aktif dalam upaya melindungi mereka dari berbagai dampak negatif teknologi informasi. Dalam hal ini guru diharapkan mampu berperan sebagai “kompas moral” bagi peserta didiknya. Adapun pemerintah dituntut untuk bersikap (lebih) bijak dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi tersebut. Mengembalikan mapel TIK ke dalam struktur kurikulum merupakan langkah strategis yang dapat ditempuh.
            Dengan adanya sinergi antara guru, orangtua dan pemerintah, diharapkan berbagai dampak negatif dari berkembangnya teknologi informasi dapat diminimalisir. Dengan begitu, TIK pun dapat benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan bukan sebaliknya.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar