Minggu, 15 November 2015

Ada Apa Dengan Pendidikan Agama Islam ?


Model pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah umum perlu dikembangkan agar lebih interaktif. Karakter PAI yang cenderung normatif dan doktriner sudah saatnya ditinggalkan. Hal tersebut terungkap dalam sebuah diskusi bertema “Pendidikan Agama Islam Berbasis Budaya Damai” yang digelar oleh Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) di Gedung Kementerian Agama beberapa waktu lalu (“PR”, 06/11/2015). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga tersebut, diketahui bahwa model pembelajaran PAI yang ada saat ini masih berorientasi pada kemampuan kognitif peserta didik sehingga nilai-nilai karakter yang ditanamkan pun tidak terinternalisasi dengan baik untuk kemudian diaplikasikan. Untuk itu pemerintah pun mengirimkan 30 guru PAI dari berbagai daerah untuk mengikuti pelatihan tentang metode pengajaran PAI di Universitas Oxford, Inggris pada tahun lalu.
Hasil penelitian yang baru saja dipublikasikan tersebut terang saja menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan, khususnya mereka yang mengajar PAI. Dalam hal ini guru PAI diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggungjawab atas gagalnya upaya penanaman karakter pada peserta didik karena (dianggap) tidak mampu mempersembahkan pembelajaran yang bermutu. Padahal, keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi, melainkan dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti bimbingan keluarga maupun lingkungan dimana anak tinggal. Selain itu dengan mengirimkan para guru PAI ke luar negeri untuk mempelajari metode pengajaran yang lebih baik secara tidak langsung telah mengerdilkan kemampuan lembaga-lembaga pendidikan yang ada dalam memberikan bekal bagi guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik.
Dalam pandangan penulis, minimnya pengamalan ajaran agama Islam di kalangan pelajar pada dasarnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, kurangnya keteladanan dari orangtua untuk menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan yang tertera dalam Al-Qur'an maupun Sunnah. Di saat guru mengajarkan anak untuk senantiasa shalat berjamaah di mesjid, orangtua malah asyik menontol televisi menyaksikan tim sepak bola kesayangannya bertanding ketika adzan tengah berkumandang. Tak heran apabila anak pun mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya
Kedua, tayangan media yang tidak mendidik. Beredarnya tayangan-tayangan “sampah” yang disuguhkan oleh berbagai stasiun televisi maupun media online menunjukkan bahwa upaya penanaman nilai-nilai islami yang dilakukan selama ini tidak didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sebaliknya, banyaknya godaan maupun rongrongan yang datang setiap saat mengakibatkan berbagai pesan moral yang disampaikan oleh guru di sekolah seakan tak berbekas.
Agar upaya penanaman nilai-nilai karakter tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan teladan serta partisipasi aktif dari orangtua dalam melakukan bimbingan kepada anak-anaknya selama mereka berada di rumah. Adapun pemerintah hendaknya mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak dengan cara menertibkan berbagai tayangan yang berpotensi merusak moral generasi muda. Dengan demikian, lahirnya generasi yang memiliki budi pekerti luhur pun dapat benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar