Jumat, 27 November 2015

HAKI dan Kemerdekaan yang Hakiki



Perjanjian kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan IT terkemuka Microsoft yang dilakukan bulan lalu mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan. Salah seorang pakar IT Onno W. Purbo menyatakan bahwa perjanjian tersebut merupakan penjajahan bentuk baru yang menggunakan lisensi maupun copy wright sebagai senjatanya. Menurutnya, pemerintahan Joko Widodo tidak mau belajar dari pengalaman pemerintahan sebelumnya dimana penggunaan perangkat lunak berbayar hanya akan mengakibatkan pemborosan anggaran negara dan menyebabkan ketergantungan pada bangsa lain. 
            Pernyataan Onno tersebut cukup beralasan mengingat saat ini banyak tersedia perangkat lunak tidak berbayar (open source) yang dapat diunduh oleh siapa pun. Sistem operasi buatan anak negeri yang diberi nama Indonesia Go Open Source (IGOS) merupakan salah satu dari sekian banyak perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Perangkat lunak yang secara konsisten dikembangkan oleh  Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama dengan komunitas pegiat IT tersebut saat ini telah banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan maupun instansi milik pemerintah.
            Di tempat berbeda seorang putra terbaik bangsa ini justru menjadi pembicaraan hangat di kalangan ilmuwan internasional. Adalah Yogi Ahmad Erlangga, pria kelahiran Tasikmalaya yang saat ini tengah menjadi incaran universitas-universitas kelas dunia maupun perusahaan-perusahaan minyak raksasa karena prestasinya dalam memecahkan rumus matematika persamaan Helmholtz yang telah membelenggu para ilmuwan selama 30 tahun. Berkat penemuannya tersebut, perusahaan minyak dapat menemukan sumber minyak di perut bumi 100 kali lebih cepat dari berbagai cara yang selama ini dilakukan. Andai saja Yogi mau mematenkan temuannya, maka keuntungan materi yang akan ia dapatkan sangat besar. Namun demikian,  pria lulusan ITB tersebut enggan melakukannya karena khawatir akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya
            Apa yang dilakukan oleh Yogi tersebut seakan memberikan pesan bahwa tidak seharusnya Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, terlebih digunakan untuk “menjajah” bangsa lain. Seluruh penemuan yang ada sudah selayaknya didedikasikan untuk kepentingan masyarakat luas maupun dikembangkan lebih lanjut hingga benar-benar sempurna. Melakukan “monopoli” terhadap ilmu pengetahuan hanya akan menjauhkan manusia dari kodratnya sebagi makhluk yang beradab.
             Adapun Onno W. Purbo telah mengajarkan kita tentang makna dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Mampu berdiri dengan kedua kaki sendiri merupakan salah satu ciri bangsa yang benar-benar  merdeka dan berdaulat. Di samping itu senantiasa mencintai produk sendiri serta memberikan dukungan bagi putra – putra bangsa yang tengah berjuang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan merupakan budaya yang harus dilestarikan demi kemajuan bangsa. Dengan demikian, berbagai bentuk penjajahan di muka bumi ini pun benar-benar dapat dihapuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar