Jumat, 20 November 2015

Tantangan Negeri Agraris


Krisis regenerasi petani menjadi persoalan serius yang harus dihadapi oleh bangsa ini di masa yang akan datang. Kurangnya minat pemuda di desa untuk melanjutkan maupun mengembangkan usaha di bidang pertanian, mengakibatkan negara yang dulu pernah mencapai swasembada pangan ini semakin sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada negara lainnya. Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Sub Program Penelitian Sosial Budaya LIPI Herry Yogaswara dalam sebuah diskusi publik dengan tema ”Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan” yang digelar di Gedung LIPI beberapa waktu lalu.
Dalam riset terbarunya, LIPI menemukan fakta bahwa modernisasi di pedesaan telah mendorong terjadinya perubahan sosial di masyarakat. Pemuda desa yang diharapkan mampu menjadi generasi penerus justru tidak memiliki minat maupun mewarisi keterampilan bertani dari orangtua mereka. Selain itu minimnya variasi di bidang pertanian serta kurangnya penghargaan yang diberikan oleh masyarakat maupun pemerintah kepada petani, menjadikan profesi petani semakin tidak dilirik oleh generasi saat ini.
Apa yang penulis gambarkan di atas sejatinya disebabkan oleh kegagalan dunia pendidikan dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar mampu berkarya dengan menggali potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Dalam hal ini kurikulum yang disusun (khususnya SMK) masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja industri yang justru lebih menguntungkan pihak asing daripada pribumi. Di samping itu minimnya jumlah SMK Pertanian serta tidak seimbangnya rasio antara guru dengan siswanya semakin menambah suram masa depan pertanian negara yang dulu dikenal sebagai negeri agraris ini. Pada tahun 2013 lalu saja tercatat hanya ada 35 SMK Pertanian di Jawa Barat dengan jumlah guru yang jauh dari memadai.
Kondisi semacam ini tentunya dapat memberikan kerugian tersendiri bagi masyarakat apabila tetap dibiarkan. Meroketnya harga bawang yang diikuti oleh melambungnya harga cabai beberapa bulan lalu dan sempat mengganggu stabilitas ekonomi nasional, merupakan bukti bahwa bidang pertanian memiliki potensi cukup besar apabila dikelola dengan baik. Sayangnya, kesempatan emas itu pun seakan disia-siakan oleh pemerintah. Banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pabrik maupun perumahan menunjukkan bahwa pemerintah memang tidak memiliki visi untuk mengembangkan sektor agraris yang dulu pernah menjadi andalan negeri ini.
Untuk dapat bangkit kembali menjadi bangsa yang mandiri, tak ada pilihan bagi pemerintah selain mengembangkan bidang pertanian sebagai komoditi andalan. Adapun pendidikan menjadi sarana strategis untuk menyiapkan tenaga terampil yang mampu memanfaatkan potensi tersebut agar benar-benar memberikan keuntungan bagi masyarakat. Menyiapkan sekolah-sekolah pertanian modern dengan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman merupakan langkah yang perlu ditempuh oleh pemerintahan saat ini. Dengan demikian, kejayaan yang dulu pernah dulu pernah dicapai oleh bangsa ini pun dapat diraih kembali !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar