Kamis, 05 November 2015

Ujian Nasional Berbasis Kurikulum Ganda



Untuk menjawab kegelisahan masyarakat dan kalangan pendidikan terkait materi yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) tahun 2016 mendatang, pihak Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara UN mengeluarkan peraturan tentang kisi-isi UN untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.  Berdasarkan Peraturan Nomor 0035/P/BSNP/IX/2015 tersebut, kisi-kisi UN disusun dengan mempertimbangkan lingkup materi yang sama pada Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013. Selain itu soal-soal yang akan dibuat pun benar-benar dirancang agar mampu menggambarkan kedalaman  materi serta dapat mengukur kemampuan kognitif siswa.
            Dalam pandangan penulis, ada dua hal yang patut kita kritisi dalam peraturan BSNP tersebut. Pertama,  peraturan yang dikeluarkan pada tanggal 29 September 2015 ini belum mampu menjawab pertanyaan publik terkait kurikulum yang akan dijadikan acuan dalam pelaksanaaan UN mendatang. Bagi satuan pendidikan menengah (SMP / SMA) yang menggunakan Kuriklum 2006 maupun Kurikulum 2013, hal ini memang tidak akan menjadi persoalan berarti mengingat seluruh materi sama-sama dikemas dalam bentuk mata pelajaran. Di samping itu  pokok bahasan diantara keduanya pun banyak memiliki kesamaan atau beririsan sehingga siswa pun tidak akan terlalu kesulitan dalam  menjawab soal-soal yang diujikan.
            Lain halnya dengan satuan pendidikan dasar (SD), ketidakjelasan acuan kurikulum yang akan digunakan dalam UN akan menjadi ganjalan serius bagi guru untuk mempersiapkan peserta didiknya menghadapi ujian akhir tersebut. Selain karena perbedaan kemasan (antara tematik dan mapel), pokok bahasan yang terdapat pada kedua kurikulum itu pun jauh berbeda satu sama lainnya. Artinya, tipe soal yang akan diujikan pada UN SD seharusnya berbeda  antara sekolah yang menggunakan Kurikulum 2006 dengan sekolah yang menggunakan 2013. Namun, pemerintah nampaknya masih bimbang untuk mengeluarkan keputusannya terkait kurikulum yang akan dijadikan acuan dalam UN SD ini. Hal ini dapat kita lihat dari situs resmi BSNP (http://bsnp-indonesia.org) dimana hanya kisi-kisi soal UN SD saja yang belum tersedia.
            Kedua, dalam kisi-kisi soal UN SMP dan SMA yang telah dipublikasikan di situs BSNP, terlihat jelas bahwa UN yang akan dilaksanakan pada tahun 2016 mendatang tidak jauh berbeda dengan UN terdahulu dimana soal yang disusun hanya untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. Padahal, masing-masing kurikulum memiliki titik tekan yang berbeda dalam proses maupun tujuan pembelajarannya. Artinya, soal-soal UN untuk sekolah-sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 seharusnya lebih bervariasi dengan menambahkan soal-soal yang mampu menilai sikap siswa.  Hal ini perlu dilakukan mengingat konsep Kurikulum 2013 yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik daripada kemampuan akademiknya.
            Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menghimbau kepada pemerintah untuk segera memberikan arahan yang jelas terkait kurikulum yang akan dijadikan “kiblat” dalam UN mendatang. Hal ini tentunya akan sangat membantu guru dalam melakukan persiapan bagi peserta didiknya untuk menghadapi ujian akhir tersebut. Di samping itu validitas soal pun hendaknya benar-benar disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan oleh setiap sekolah. Dengan demikian,  hajatan tahunan yang selalu menghabiskan anggaran cukup besar ini pun dapat benar-benar dirasakan manfaatnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar