Minggu, 06 Desember 2015

Menyikapi Fenomena Uncshooling



Fungsi sekolah sebagai lembaga yang berperan untuk melahirkan calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang kini mulai dipertanyakan.  Banyaknya orangtua yang lebih memilih  untuk tidak menyekolahkan anaknya dan mendidiknya sendiri di rumah menunjukkan bukti bahwa sekolah tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya tempat yang diharapkan mampu mendidik anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai siswa dalam waktu yang bersamaan, lebih dirasakan sebagai beban sehingga mereka kurang memiliki motivasi untuk belajar. Tak hanya itu, dalam beberapa kasus tak jarang sekolah menjadi tempat dimana ketidakjujuran mulai diajarkan. Kebiasaan mencontek massal saat Ujian Nasional (UN) merupakan contoh nyata dari fenomena yang dimaksud.   
          Lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan sejatinya seperti yang penulis gambarkan di atas sejatinya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, ketidakmampuan (sebagian) guru dalam mengemas materi yang diajarkan.  Metode pembelajaran konvensional yang cenderung monoton dan searah seolah menjadi siksaan bagi generasi saat ini yang terbiasa belajar menggunakan perangkat IT sebagai medianya. Minimnya bahan ajar berbasis multimedia yang digunakan oleh para guru menjadikan proses pembelajaran menjadi kurang menarik yang pada akhirnya membuat motivasi siswa untuk belajar menjadi berkurang.
          Kedua, terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh sekolah maupun oknum guru mengakibatkan citra institusi pendidikan tersebut semakin buruk di mata masyarakat. Fenomena mencontek massal yang terjadi (hampir) setiap tahun seakan membenarkan anggapan sebagian kalangan bahwa sekolah memang tempat melahirkan calon-calon koruptor di masa yang akan datang. Di samping itu kebiasaan guru yang sering meninggalkan kelas sebelum waktunya karena urusan bisnis maupun mengurus persyaratan tunjangan, mengakibatkan tugas utamanya menjadi terbengkalai.
          Ketiga, sikap (sebagian) orangtua yang melimpahkan seluruh tanggungjawab terkait pendidikan anaknya kepada pihak sekolah tak jarang berakhir dengan kekecewaan. Ketidakmampuan atau bahkan ketidakmauan orangtua untuk melanjutkan proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di sekolah mengakibatkan upaya untuk mendidik anak-anak bangsa tersebut berjalan secara parsial. Alhasil, anak pun tidak mampu tumbuh menjadi manusia seutuhnya sebagai akibat dari proses pendidikan yang tidak tuntas. 
          Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang kini mulai luntur, tak ada jalan lain bagi sekolah selain memperbaiki layanan pendidikan yang diberikannya. Dalam hal ini setiap pendidik dituntut untuk mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh dedikasi serta rasa tanggungjawab. Di samping itu berbagai penyimpangan yang selama ini dilakukan oleh sekolah (secara sistematis)  sudah saatnya dihentikan.
          Adapun orangtua hendaknya menyadari bahwa mereka memiliki kewajiban untuk menuntaskan proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di sekolah.  Sebagian besar waktu yang dihabiskan oleh anak di rumah sebaiknya benar-benar dimanfaatkan orangtua untuk memberikan bimbingan. Dengan demikian, lahirnya generasi emas seperti yang dicita-citakan pun dapat benar-benar terwujud. (Dimuat di Koran Siap Belajar Edisi Awal Desember 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar