Senin, 18 Januari 2016

Penilaian Autentik Dalam Kurikulum 2013



Sebagai acuan bagi para guru dalam melakukan proses penilaian hasil belajar, baru-baru ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan aturan terkait petunjuk teknis (Juknis) tentang penilaian hasil belajar siswa sekolah dasar dan menengah yang menggunakan Kurikulum 2013. Aturan yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015 ini merupakan revisi terhadap Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 yang sebelumnya dijadikan acuan oleh para guru dalam mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Sayangnya, aturan baru tersebut belum menjawab kegelisahan guru terkait rumitnya proses penilaian yang selama ini mereka lakukan. Sebaliknya, dalam buku panduan setebal 116 halaman tersebut terlihat jelas (masih) banyaknya rubrik penilaian yang harus dikerjakan oleh para guru. Wacana untuk menyederhanakan format penilaian dalam Kurikulum 2013 yang dulu pernah mengemuka pun nyatanya tidak terbukti di lapangan.                                                                              Kurikulum 2013 (Kurtilas) memang dikenal menggunakan penilaian autentik untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Penilaian secara holistik yang meliputi ranah sikap, pengetahuan serta keterampilan tersebut bertujuan untuk “memotret” kondisi peserta didik dengan sebenar-benarnya. Dengan adanya penilaian autentik, siswa tidak dapat dikatakan cerdas hanya karena mereka berhasil menguasai pengetahuan saja. Sebaliknya, keterampilan serta sikap yang mereka tunjukkan di luar pembelajaran menjadi bagian tak terpisahkan dari kompetensi yang mereka miliki.                                                                                                                         Di sisi lain tidak seimbangnya rasio guru dengan jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar (rombel) menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian sekolah untuk memberlakukan penilaian autentik sesuai dengan tuntutan kurikulum.  Banyaknya rubrik penilaian yang harus diisi untuk setiap siswa tak jarang mengakibatkan tugas utama guru dalam mengajar menjadi terganggu. Guru menjadi sering meninggalkan kelas untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasinya di kantor karena khawatir akan ada supervisi dari pengawas maupun untuk keperluan akreditasi. Sedangkan siswa dibiarkan asyik di kelas dengan tugas mandiri yang diberikan oleh guru. Akibatnya, metode mengajar dengan sistem CBSA (Cul Budak Sina Anteng) yang dulu pernah “populer” pun kembali membudaya di kalangan guru saat ini.
            Kondisi yang digambarkan oleh penulis di atas menunjukkan bahwa untuk dapat melaksanakan penilaian autentik sesuai dengan tuntutan kurikulum, terdapat prasyarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi. Selain dilakukan dalam sebuah kelas dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, komunikasi dengan para orangtua terkait metode penilaian yang digunakan mutlak dilakukan oleh sekolah agar mereka memiliki pemahaman yang sama. Selain itu penyederhanaan format penilaian pun mutlak dilakukan dalam rangka meringankan tugas guru serta agar mudah dipahami oleh orangtua. Dengan demikian, penilaian yang dilakukan pun akan mampu menggambarkan kompetensi siswa secara objektif seta tidak mengganggu tugas utama guru dalam mengajar.       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar