Minggu, 21 Februari 2016

Lindungi Anak Dari LGBT



Munculnya fenomena gaya hidup Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) akhir-akhir ini sudah selayaknya menjadi perhatian keluarga maupun dunia pendidikan. Terjadinya perilaku menyimpang di kalangan remaja tersebut dikhawatirkan dapat mengancam masa depan generasi muda apabila tidak segera disikapi secara serius. Berbagai penyakit menular dan mematikan seakan mengintai mereka yang senantiasa melakukan perbuatan yang berlawanan dengan kodratnya sebagai manusia tersebut. Adapun  hilangnya generasi penerus (lost generation) merupakan ancaman terbesar yang akan dihadapi oleh negara yang abai terhadap maraknya fenomena perilaku menyimpang di kalangan warganya itu.
          Timbulnya kecenderungan terhadap sesama jenis sebenarnya bukan hal baru di dunia kesehatan. Berbagai faktor (diduga) menjadi penyebab seseorang mengambil pilihan tersebut (menjadi gay atau lesbian) sebagai jalan hidupnya. Mulai dari faktor genetika, kondisi lingkungan, sampai dengan kejadian yang pernah menimbulkan trauma bagi dirinya berpotensi menjadi pemicu terjadinya perilaku menyimpang tersebut. Bahkan, pola asuh yang dijalankan oleh orangtua pun turut berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa selanjutnya.
          Sayangnya,  kondisi semacam ini kurang begitu disadari oleh masyarakat kita. Kebanyakan orangtua menganggap bahwa LGBT merupakan budaya barat yang datang begitu saja dan kemudian diadopsi oleh remaja kita. Padahal, gejala yang menunjukkan tanda bahwa anak memiliki kecenderungan terhadap sesama jenis tersebut dapat didteksi dan dicegah sejak dini apabila orangtua maupun guru  benar-benar memahami karakter mereka dan mengikuti perkembangannya sejak awal.   
          Di sisi lain adanya anggapan sebagian kalangan bahwa homoseksualitas merupakan sesuatu yang natural dan bukan merupakan hal yang ganjil patut kita sayangkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memang telah mengeluarkan homoseksualitas dari kategori penyakit. Namun, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mencatat bahwa kaum gay dan transgender memiliki resiko 20 kali lebih besar untuk tertular penyakit HIV-AIDS dibandingkan dengan mereka yang menjalin hubungan secara normal (dengan lawan jenis).
          Adapun dilihat dari kacamata agama, perbuatan menyukai sesama jenis tersebut jelas dilarang dan diperintahkan untuk dijauhi. Selain merupakan dosa yang sangat besar, perbuatan tersebut juga bertentangan dengan kodrat manusia yang senantiasa tumbuh dan berkembang dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Mengikuti hawa nafsu yang tidak ada habisnya hanya akan membuat manusia semakin jauh dari petunjuk yang diberikan oleh Tuhan nya.
          Untuk melindungi anak – anak kita dari berbagai perilaku yang menyimpang, orangtua  sebaiknya dapat berperan aktif dalam menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Dalam hal ini orangtua diharapkan mampu memposisikan diri mereka sebagai pembimbing sekaligus mitra yang dapat diajak untuk berdiskusi tentang permasalahan yang dialami oleh anaknya. Adapun guru  hendaknya  mampu memberikan wawasan kepada siswanya tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi mereka. Mengajak siswa untuk mengenal contoh-contoh perilaku menyimpang yang tidak boleh dilakukan dapat menghindarkan mereka dari perbuatan yang membahayakan tersebut. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi tunas-tunas bangsa yang harus layu sebelum berkembang akibat melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama tersebut. (Dimuat di Harian Umum Republika, Edisi 21 Februari 2016)
         
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar