Jumat, 26 Februari 2016

Sekolah Sebagai Sarana Dakwah




Tampilnya pendidik sebagai model  merupakan prasyarat dalam upaya membentuk karakter peserta didik agar memiliki akhlak yang mulia. Adapun terjalinnya pola komunikasi yang dilandasi oleh nilai-nilai etika, kejujuran, dan kasih sayang dapat mendorong anak untuk senantiasa berusaha memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Itulah yang dapat penulis simpulkan saat membaca tulisan berjudul “Menyiapkan Generasi Berakhlak Mulia” yang ditulis oleh M Solehudin (“PR”, 15/12/2015). Tulisan yang dimuat pada kolom opini tersebut seakan mengisyaratkan bahwa tugas seorang pendidik bukan sebatas melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada para peserta didiknya.  Lebih dari itu, setiap pendidik diharapkan mampu memposisikan dirinya sebagai da'i (penyeru) bagi peserta didiknya.                                   
             Degradasi moral di kalangan remaja saat ini memang menjadi persoalan serius bagi bangsa yang tengah mengalami krisis kepemimpinan ini. Perilaku hedonis dan konsumtif yang ditunjukkan oleh (sebagian) remaja kita seakan menghapus harapan masyarakat akan lahirnya sosok-sosok pemimpin  masa depan yang mampu membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Adapun sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan dianggap telah gagal dalam menjalankan misinya, yaitu melahirkan insan – insan yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang.    
          Kondisi yang digambarkan oleh penulis di atas antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan (sebagian) guru dalam memahami kewajibannya secara utuh. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan dapurnya semata sebagaimana tempat-tempat kerja lainnya. Adapun peserta didik dianggap sebagai bejana kosong yang “hanya” perlu diisi air hingga penuh tanpa ada kejelasan untuk apa  air tersebut dituangkan.
         Berangkat dari keprihatinan tersebut, pemerintah pun berupaya untuk memperbaiki potret dunia pendidikan dengan cara mengganti kurikulum  untuk tingkat dasar dan menengah. Kurikulum 2006 yang (dianggap) lebih menekankan aspek kognitif siswa diganti dengan Kurikulum 2013 (Kurtilas) yang berorientasi pada aspek sikap peserta didik. Namun, dalam pelaksanaannya berbagai persoalan justru bermunculan seiring banyaknya kewajiban administrasi yang harus dipenuhi oleh guru. Pada akhirnya, guru pun lebih banyak menggunakan metode CBSA (Cul Budak Sina Anteng) dalam mengajar dan Kurtilas pun menjelma menjadi “Kurikulum Serba Tidak Jelas”.
          Untuk dapat membentuk karakter peserta didik sesuai dengan yang dicita-citakan, dibutuhkan peran aktif pendidik dalam menanamkan nilai-nilai moral saat berinteraksi dengan peserta didiknya. Dalam hal ini setiap pendidik hendaknya mampu memposisikan dirinya sebagai da'i ataupun murabbi bagi peserta didiknya. Menjadikan sekolah sebagai sarana dakwah menjadi keharusan bagi pendidik yang memahami tugas serta tanggungjawabnya secara utuh Dengan demikian, lahirnya generasi yang berilmu dan berakhlak mulia pun dapat benar-benar diwujudkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar