Kamis, 10 Maret 2016

Mencermati Tindak Lanjut UKG



Sebagai tindak lanjut dari Uji Kompetensi Guru (UKG) yang digelar akhir tahun 2015 lalu, pemerintah  akan memberikan pelatihan bagi guru yang dianggap belum memenuhi standar. Pelatihan tersebut rencananya akan dilaksanakan dalam tiga bentuk, yaitu tatap muka, jaringan (daring), serta campuran. Pelatihan tatap muka akan diberikan kepada guru yang tempat tinggalnya jauh serta tidak ada akses internet. Sedangkan pelatihan dalam bentuk campuran diperuntukkan bagi guru yang nilai UKG nya rendah. Adapun bagi mereka yang memiliki akses internet cukup memadai, pelatihan akan dilaksanakan sepenuhnya secara daring. Harapannya, dengan menggelar pelatihan tersebut, kemampuan profesional maupun pedagogik para guru pun akan meningkat secara signifikan.
          Upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru di tanah air tersebut sudah selayaknya kita apresiasi. Rendahnya kompetensi (sebagian) guru memang menjadi salah satu persoalan yang menyebabkan buramnya potret dunia pendidikan negeri ini. Besarnya anggaran pendidikan yang telah dikeluarkan rupanya belum sebanding dengan apa yang seharusnya didapatkan oleh bangsa yang besar ini. Dalam berbagai survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerhati pendidikan dunia, Indonesia kerap kali menduduki posisi juru kunci. Program sertifikasi guru yang digulirkan sejak beberapa tahun silam itu pun nyatanya belum mampu mendongkrak kualitas pendidik sesuai dengan yang diharapkan. Kebijakan yang telah menghabiskan anggaran pluhan triliun tersebut baru mampu sebatas memperbaiki kesejahteraan (sebagian) pendidik serta meningkatkan minat masyarakat untuk terjun menjadi seorang pendidik.
          Namun demikian, upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru tersebut hendaknya direncanakan dengan matang, berkelanjutan serta benar-benar berorientasi pada kepentingan guru. Banyaknya pelatihan yang lebih kental dengan “aroma” proyek daripada bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sejatinya merupakan bentuk inefisiensi anggaran sekaligus penghianatan terhadap perjuangan bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Dalam hal ini kredibilitas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebagai lembaga yang diberikan mandat untuk mengelola aset bangsa yang sangat berharga itu pun benar-benar dipertaruhkan.   
          Untuk meyakinkan para guru tentang keseriusan pemerintah dalam upaya meningkatkan kompetensi mereka, Kemdikbud hendaknya mampu menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang benar-benar berbeda dari (pemerintahan) sebelumnya. Pelatihan dengan metode Whole School Training seperti yang pernah diwacanakan oleh Mendikbud di saat beliau baru menjabat hendaknya dapat benar-benar dilaksanakan. Dengan metode tersebut, para guru diajak untuk melihat langsung proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah rintisan yang saat ini  melaksanakan pembelajaran menggunakan Kurikulum 2013. Tak hanya itu, guru yang tengah dilatih pun diberikan kesempatan untuk praktek mengajar di sekolah rintisan tersebut. Pada akhirnya, guru pun tidak hanya mendapatkan teori tentang bagaimana cara mengajar yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 namun juga mempraktekannya secara langsung.
          Metode Whole School Traininghanyalah salah satu dari sekian banyak metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru secara nyata. Penulis berharap, pemerintah dapat menggunakan  metode lainnya yang juga efektif dan efisien dalam memberikan bekal bagi para guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dengan demikian, besarnya anggaran yang dialokasikan untuk peningkatan kompetensi guru pun dapat benar-benar tepat sasaran.    
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar