Kamis, 24 Maret 2016

Menyikapi Persoalan Anggaran Pendidikan



Keterbatasan anggaran seharusnya tidak dijadikan kambing hitam dari terhambatnya inovasi dan kemajuan teknologi.  Untuk dapat menjadi bangsa yang maju, produktivitas serta kreativitaslah yang perlu ditingkatkan, bukan sekedar mengeluh tentang minimnya anggaran. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) di Puspiptek beberapa waktu lalu (“PR”, 02/02/2016).                                           Pernyataan Wapres tersebut sengaja diutarakan menanggapi “curhat” yang disampaikan oleh Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristek Dikti Okky Karna Radjasa beberapa hari sebelumnya. Saat itu Okky menyayangkan banyaknya doktor Indonesia yang lebih memilih negara lain sebagai tempat mengabdi maupun mengembangkan ilmunya. Adapun kurangnya penghargaan dari pemerintah serta minimnya anggaran untuk keperluan penelitian menjadi alasan utama bagi mereka untuk hengkang ke negara lain daripada tetap tinggal di tanah airnya.                                                                                                                    
                      Terjadinya “eksodus” para ilmuwan terbaik bangsa ke luar negeri sebenarnya bukan fenomena baru di negara yang kaya akan sumber daya alam ini. Sejak masa orde baru dimulai hingga hari ini, tidak sedikit para ilmuwan kita yang memutuskan untuk tetap tinggal di negeri orang. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang membangun rumah tangga di sana dan berpindah kewarganegaraan. Sayangnya, hal ini tidak dijadikan pelajaran  oleh setiap rezim untuk menjaga aset bangsa yang sangat berharga tersebut agar mau membangun negerinya sendiri.                       
Jika kita kaitkan dengan kondisi dunia pendidikan saat ini (khususnya pendidikan dasar dan menengah), apa yang disampaikan oleh Jusuf Kalla tersebut justru menunjukkan sikap inkonsistensi pemerintah dalam upaya memperbaiki wajah pendidikan di negeri ini. Rencana pemerintah yang akan memberlakukan Kurikulum 2013 bagi seluruh sekolah secara bertahap hingga tahun 2019 mendatang, sejatinya merupakan bentuk pemasungan kreativitas guru maupun sekolah dalam upaya melahirkan generasi unggul dan berkarakter. Padahal, Mendikbud sendiri pernah menyampaikan bahwa perubahan kurikulum bukan satu-satunya jalan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kemampuan guru dalam mengelola kelas dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan penuh kreativitas merupakan kunci tercapainya tujuan pendidikan.                                                                                                                                                      Di sisi lain keengganan pemerintah untuk berinventasi di bidang pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan guru (honorer) serta perbaikan infrastruktur pembelajaran sangat disayangkan banyak pihak. Pemerintah rupanya lebih tertarik untuk menggarap proyek-proyek (yang terkesan) mercusuar seperti kereta cepat Bandung – Jakarta yang belum tentu bermanfaat bagi masyarakat banyak. Bahkan, kontrak kerjasama dengan negara Tiongkok tersebut disinyalir akan membahayakan kedaulatan (ekonomi) negara Republik Indonesia mengingat  besarnya hutang yang harus dibayar di kemudian hari serta adanya beberapa BUMN strategis yang dijadikan jaminan.                                                                                                   
 Untuk dapat menjadi bangsa yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lainnya, memberikan dukungan serta penghargaan bagi mereka yang telah menunjukkan dedikasinya bagi bangsa ini merupakan sebuah keniscayaan. Dalam hal ini komitmen pemerintah untuk senantiasa melakukan pembinaan serta memberikan support (dana maupun sarana) dapat memberikan energi positif bagi anak-anak bangsa untuk terus berinovasi dan mempersembahkan karya-karya terbaiknya. Dengan demikian, di masa yang akan datang tidak ada lagi putra-putra bangsa yang “dibajak” oleh bangsa lain akibat ketidakmampuan (atau bahkan ketidakmauan) pemerintah dalam menghargai hasil karyanya.

       
 

2 komentar:

  1. bagus,kami sebagai guru mendukung...!

    BalasHapus
  2. KISAH SUKSES SAYA DARI HONORER JADI PNS (100% NYATA)

    Berkat bantuan Bpk AIDU TAUHID.SE.SMi. Beliau selaku kepala Direktur Pengadaan dan Kepangkatan) Di BKN PUSAT Jakarta..
    No hp beliau 0822-9229-9544.,
    Alhamdilillah saya sekarang sudah di ankat jadi PNS.

    Bagi TEMAN TEMAN tolong jangan sampai anda tergiur menghubungi di nomor hp yang lain selain no hp bpk aidu tauhid yang saya lampir'kan di atas atau postingan saya (WASPADA PENIPUAN)

    KISAH CERITA SAYA JADI PNS Assalamu Alaikum wr-wb,Mohon maaf mengganggu waktu dan aktifitas ibu/bapak,saya cuma bisa menyampaikan melalui pesan singkat dan semoga bermanfaat, saya seorang honorer baru saja lulus jadi PNS tahun 2015 yang lalu, dan Saya ingin berbagi cerita kepada anda, Bahwa dulunya saya ini cuma seorang Honorer di SMA Negeri 4 Madiun , Sudah 7 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 5 kali mengikuti ujian, tidak pernah lolos bahkan saya sempat putus asa soal'nya banyak MODUS PENIPUAN yang posting nama dan nomor tlp penjabat BKN di media tapi alhamdulillah ada teman facebook saya atas nama SALMA YENTI dan LISTINA YUNEVA memposting no telf Bpk AIDU TAUHID.SE.SMi. selaku kepala Direktur Pengadaan dan Kepangkatan) Di BKN PUSAT Jakarta.. sebagai Kepala deputi bidang mutasi kepegawaian yang di kenalnya di BKN jakarta dan saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih kepada beliau yang sudah mau membantu saya untuk mengabdi pada negara, itu adalah kisa nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya anda bisa,
    Hubungi Bpk AIDU TAUHID.SE.SMi. (Direktur Pengadaan dan Kepangkatan) Di BKN PUSAT Jakarta..
    No telf beliau yang selalu aktif 0822-9229-9544
    Siapa tau beliau masih bisa membantu anda.. Tq

    BalasHapus