Rabu, 16 Maret 2016

Pendidikan Keguruan Berbasis Kuota



Penerimaan calon mahasiswa keguruan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebaiknya didasarkan pada jumlah kebutuhan guru di lapangan. Selain itu untuk mendapatkan guru-guru yang berkualitas, keinginan serta motivasi calon mahasiswa sebaiknya menjadi perhatian dalam proses seleksi. Adapun untuk meningkatkan kompetensi calon guru, revitalisasi kurikulum perguruan tinggi menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu diungkapkan oleh Furqon selaku rektor UPI dalam pertemuannya dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Komisi I DPR serta perwakilan rektor beberapa waktu lalu. Menurutnya, sudah saatnya perekrutan calon guru benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan guru di setiap daerah dan tidak lagi didasarkan pada asumsi – asumsi tanpa disertai data yang akurat.
       Apa yang disampaikan oleh rektor UPI tersebut memang sudah selayaknya menjadi perhatian LPTK maupun pihak-pihak terkait lainnya. Persoalan (rendahnya) kualitas guru di negeri ini sejatinya berawal dari tidak selektifnya proses rekrutmen calon guru yang dilakukan oleh LPTK.  Banyaknya mahasiswa yang menjadikan jurusan kependidikan sebagai pilihan terakhir tentunya berpengaruh terhadap motivasi belajar mereka saat menjalani perkuliahan yang pada akhirnya menentukan kualitas lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi pencetak calon guru tersebut.
         Di sisi lain ketidakmampuan pemerintah pusat maupun daerah dalam memprediksi jumlah kebutuhan guru di masa yang akan datang menjadi persoalan tersendiri dalam upaya menciptakan pemerataan distribusi guru di setiap wilayah. Selain dapat menghambat masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, tidak adanya pemetaan yang jelas terkait jumlah kebutuhan guru tersebut tentunya akan menjadi masalah bagi para lulusan saat mereka hendak terjun ke lapangan. Banyaknya lulusan LPTK yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya merupakan bukti bahwa terciptanya sinergitas antara LPTK dengan sekolah-sekolah masih sebatas harapan.
          Kondisi ini diperparah dengan kebijakan (sebagian) LPTK yang lebih memilih untuk melebarkan sayapnya dengan membuka jurusan-jurusan non kependidikan. Alih-alih melakukan pengembangan kurikulum kependidikan, (sebagian) LPTK justru kehilangan orientasinya sebagai lembaga  yang diberikan mandat untuk mencetak guru-guru berkualitas. Tak heran apabila kualitas lulusan yang dihasilkan pun masih jauh dari harapan. Rendahnya kemampuan menulis di kalangan guru serta ketidakpahaman mereka terhadap aturan perundang-undangan yang berkaitan dengan profesinya merupakan bukti bahwa LPTK yang ada belum mampu berperan sebagaimana mestinya.
          Untuk mencapai keseimbangan antara ketersediaan guru dengan jumlah kebutuhan di lapangan, diperlukan pola baru dalam proses rekrutmen calon guru yang dilakukan oleh LPTK. Dalam hal ini jumlah mahasiswa keguruan yang akan diterima hendaknya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan guru di masa yang akan datang. Jika diperlukan, sistem buka-tutup (on – off)  dalam penerimaan calon mahasiswa baru dapat diberlakukan oleh LPTK untuk menghindari terjadinya penumpukan jumlah guru di kemudian hari. Di samping itu instrument tambahan dalam proses seleksi (seperti wawancara dan tes kejiwaan) pun mutlak diikutsertakan guna mengetahui sejauh mana keseriusan mereka dalam menjalani profesi sebagai seorang guru. Dengan demikian, hanya guru-guru berkualitaslah yang pada akhirnya terpilih untuk mengemban tugas dalam mendidik putra-putri terbaik bangsa yang besar ini.
         
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar