Jumat, 18 Maret 2016

Sekolah Unggul dan Budaya Literasi



Tingginya animo masyarakat untuk mendaftarkan putra – putri mereka ke sekolah-sekolah favorit nampaknya menjadi pemandangan rutin menjelang pergantian tahun ajaran. Berbagai cara dilakukan orangtua agar anaknya diterima di sekolah yang mereka anggap paling baik. Mulai dari mempersiapkan anaknya dengan cara mengikuti bimbingan belajar, mengurangi jam bermain anak, sampai dengan menjanjikan hadiah bagi anaknya apabila mereka lulus ke sekolah favorit dilakukan orangtua beberapa saat sebelum dibukanya seleksi penerimaan siswa baru. Tak hanya itu,  tanpa memahami betul keunggulan sekolah-sekolah favorit yang dimaksud, orangtua bahkan rela menempuh jalan yang “tidak wajar” demi mendapatkan kursi untuk buah hatinya.
          Hadirnya sekolah-sekolah unggul memang menjadi kebutuhan masyarakat di tengah beragamnya tantangan yang harus dihadapi oleh generasi saat ini. Membekali anak dengan pendidikan yang berkualitas  dipandang sebagai ikhtiar terbaik yang dapat dilakukan orangtua  untuk masa depan anak mereka. Kegagalan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak, hanya akan membuat proses pendidikan yang dilaksanakan selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.
          Di sisi lain rendahnya budaya literasi di kalangan pelajar menjadi pekerjaan rumah yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan. Berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2012, indeks membaca orang Indonesia hanya sebesar 0,001. Artinya satu buku dibaca oleh seribu orang Indonesia. Berbeda dengan Singapura dan Hongkong dimana seribu orang membaca sedikitnya 550 buku. Sungguh mengharukan !. Di Indonesia buku tak lagi menjadi teman setia pelajar masa kini. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon sering disebut sebagai generasi penerus bangsa ini. Remaja kita ternyata lebih sering menghabiskan waktu didepan televisi maupun didepan laptop untuk menyaksikan acara kesayangan mereka maupun bercengkarama dengan teman sejawatnya melalui media sosial.
          Tak heran apabila posisi juru kunci pun kerap kali diraih oleh bangsa yang besar ini dalam berbagai survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional. Berdasarkan data dari Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2012 yang lalu, Indonesia menempati peringkat ke 64 dalam hal kemampuan membaca dan menulis dari 65 negara yang diteliti. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi di tengah banyaknya sekolah favorit serta semakin meningkatnya anggaran pendidikan dari waktu ke waktu. 
          Buramnya potret pendidikan di tanah air tersebut antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan sekolah dalam menciptakan iklim literasi di lingkungannya. Perpustakaan yang seyogyanya berperan sebagai jantungnya sekolah cenderung tidak dikelola dengan baik oleh mereka yang diberikan amanah. Kondisi ruangan yang tidak nyaman serta lokasi yang cukup jauh dari jangkauan siswa, membuat mereka enggan untuk datang. Di samping itu kurangnya SDM khusus yang dapat benar-benar fokus dalam mengelola perpustakaan mengakibatkan gudang ilmu tersebut  semakin tak terurus. Alhasil, perpustakaan sekolah pun tak jarang menjadi sarang cakcak, cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa.
          Untuk menciptakan iklim literasi di lingkungan sekolah, diperlukan sebuah upaya yang dilakukan secara sistematik, massif serta berkelanjutan. Adapun Gerakan Literasi Sekolah yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa waktu lalu diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Program yang mewajibkan siswa membaca buku setiap hari sebelum pelajaran dimulai tersebut memang identik dengan Sustained Silent Reading (SSR)  seperti yang telah lama diberlakukan di negara-negara maju dan terbukti mampu meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajarnya.
          Namun demikian, kesuksesan program tersebut sangat bergantung pada sejauh mana keseriusan sekolah dalam menyediakan sarana pendukung serta komitmen mereka untuk senantiasa melestarikan budaya membaca dan menulis di kalangan siswanya. Menghidupkan perpustakaan berbasis kelas merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh  oleh sekolah untuk memupuk kecintaan anak terhadap buku di  saat perpustakaan sekolah belum mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hal ini pengelola sekolah dapat membuat perpustakaan mini di  setiap kelas dan mengajak siswanya untuk membiasakan aktivitas membaca sebelum memulai pelajaran. Jika diperlukan, guru dapat menugaskan siswanya untuk membuat resume untuk setiap buku yang mereka baca. Selain itu penghargaan pun dapat diberikan kepada siswa yang rajin membaca buku.
          Adapun untuk menambah koleksi buku-buku terbaru, sekolah dapat menjalin kemitraan dengan lembaga lain yang sama-sama memiliki misi untuk memajukan dunia pendidikan. Dalam hal ini sekolah dapat memanfaatkan dana Corporate Social Responsibiliyt (CSR) yang biasa diberikan oleh perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar mereka. Selain itu siswa pun dapat berpartisipasi aktif melalui program One Student One Book (OSOB).  Melalui program ini setiap siswa diberikan kesempatan untuk menyumbangkan sebuah buku yang nantinya akan digunakan oleh mereka sendiri maupun adik-adik kelasnya.
          Berdasarkan gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa sekolah unggul bukanlah sekolah yang sarana belajarnya paling lengkap maupun sekolah yang hanya mampu mengantarkan anak didiknya ke sekolah-sekolah lanjutan maupun perguruan tinggi favorit. Sekolah unggul adalah sekolah yang mampu menciptakan iklim literasi di lingkungannya sehingga mampu menjadikan anak didiknya sebagai generasi yang cinta membaca, menulis dan berdiskusi.
         
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar