Jumat, 01 April 2016

Menyoal (Kembali) Penghapusan Mapel TIK



Tulisan berjudul “Bekali Siswa dengan UU ITE” (PR, 12/03/2016)  yang ditulis oleh Ade  Engkus Kusnadi menarik untuk disimak. Artikel yang dimuat pada kolom Forum Guru tersebut  mengingatkan kita kembali akan pentingnya pemahaman siswa terhadap Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) saat mereka berinteraksi dengan sesamanya di dunia maya. Harapannya, berbagai pelanggaran etika yang selama ini dilakukan oleh para pengguna media sosial dapat dicegah sedini mungkin. Beliau pun menyarankan agar sosialisasi aturan terkait hal ini tidak hanya dilakukan oleh guru Pkn, namun juga dilakukan di luar jam pelajaran seperti saat kegiatan ekstrakurikuler.                                                                   Maraknya pelanggaran etika yang dilakukan para remaja sejatinya disebabkan oleh ketidakpahaman mereka terhadap norma yang berlaku di dunia maya.  Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa dunia maya tidak memiliki etika maupun aturan yang mengikat sehingga dapat digunakan dengan sebebas-bebasnya. Akibatnya, berbagai ungkapan kebencian (hate speech), makian serta hinaan pun seakan menjadi “bahasa”  yang biasa digunakan oleh remaja  saat mereka berinteraksi di dunia maya. Tak heran apabila media sosial yang sejatinya diciptakan untuk menjalin tali silaturrahmi pun, kini mengalami pergeseran menjadi sarana untuk melakukan pembunuhan karakter.                        Di sisi lain kebijakan pemerintah terdahulu yang menghapus mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari struktur Kurikulum 2013 menjadi kendala bagi sekolah dalam   memberikan pemahaman tentang  aturan-aturan yang berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi. Adanya anggapan bahwa anak zaman sekarang sudah pandai menggunakan peralatan digital sehingga tidak perlu diajari lagi merupakan pandangan yang keliru dan menyesatkan. Hal ini dikarenakan TIK tidak hanya berbicara tentang keterampilan dalam mengoperasikan sebuah alat. Lebih dari itu, perilaku pengguna (user) dalam memanfaatkan teknologi ini pun menjadi kajian penting yang tak boleh diabaikan begitu saja.                                         Kenyataan menunjukkan, berbagai penyimpangan dilakukan oleh pengguna peralatan digital yang didominasi oleh kalangan remaja. Mulai dari pembajakan perangkat lunak, penyebaran link yang memuat konten pornografi, sampai dengan pembobolan situs-situs milik lembaga pemerintah maupun swasta seakan menjadi pemandangan rutin yang sering kita jumpai. Ironisnya, berbagai kejahatan tersebut tidak hanya dilakukan oleh seorang profesional, namun juga mereka yang masih duduk di bangku sekolah.                                                      Untuk menjauhkan generasi muda kita dari berbagai perilaku menyimpang, dibutuhkan upaya  massif dan sistematis dalam memberikan pemahaman tentang aturan-aturan penggunaan teknologi informasi. Dalam hal ini mengembalikan mapel TIK ke dalam struktur kurikulum merupakan solusi terbaik untuk melindungi anak – anak kita dari kerusakan yang lebih parah. Adapun usulan untuk menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana untuk menyosialisasikan berbagai aturan terkait penggunaan perangkat digital tidaklah tepat. Luasnya cakupan materi yang harus disampaikan serta bentuk evaluasi yang harus dilakukan secara menyeluruh membuat mapel TIK perlu mendapatkan porsi yang memadai. Dengan demikian, diharapkan berbagai pelanggaran etika yang dilakukan oleh kalangan remaja pun dapat dihindari sedini mungkin.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar