Senin, 23 Mei 2016

IPK dan (Indeks) Integritas Sekolah



Nilai raport yang diperoleh siswa di sekolah ternyata berbanding lurus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang mereka raih saat berada di perguruan tinggi. Selain itu IPK yang diperoleh mahasiswa lulusan sebuah sekolah biasanya tidak jauh berbeda dengan adik kelasnya. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Herry Suhardiyanto di Jakarta beberapa waktu lalu. Kedua indikator itu pun selama ini dijadikan salah satu pertimbangan oleh PTN dalam menerima calon mahasiswanya terutama melalui jalur SNMPTN.
            Di lain pihak diberlakukannya Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) sejak dua tahun lalu semakin mengundang keresahan pihak sekolah maupun kalangan pendidikan lainnya. IIUN seakan menjadi sarana untuk menjustifikasi jujur atau tidaknya sebuah sekolah dalam menyelenggarakan hajatan tahunan tersebut. Tak hanya itu, adanya dorongan untuk menjadikan IIUN sebagai tolak ukur utama dalam menilai integritas sekolah secara keseluruhan, menjadikan penilaian tentang kredibilitas sekolah semakin jauh dari nilai-nilai objektivitas.
            Keberatan sebagian besar kalangan atas diberlakukannya IIUN tersebut memang bukan tanpa alasan. Ketidakjelasan indikator yang digunakan dalam penentuan IIUN mengakibatkan banyak pihak meragukan tingkat validitas dari data yang dihasilkan. Alih-alih mendorong sekolah untuk menyelenggarakan UN dengan penuh kejujuran, pemerintah justru menuding sekolah-sekolah dengan IIUN rendah “belum mampu” bersikap jujur dalam melaksanakan ujian akhir tersebut. Hal ini tentunya akan membuat citra sekolah maupun daerah dengan rata-rata IIUN rendah menjadi buruk di mata masyarakat. Padahal, kenyataan di lapangan belum tentu menunjukkan hal demikian.
            Adapun kebijakan pemerintah yang menjadikan IIUN sebagai salah satu pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa baru bagi PTN semakin menambah kisruh dunia pendidikan di negeri yang akan segera mendapatkan bonus demografi ini. Upaya untuk mendapatkan bibit-bibit unggul pun dipastikan akan terhambat akibat proses seleksi yang bermasalah tersebut. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas SDM yang dimiliki bangsa ini di masa depan.
            Untuk memacu sekolah agar senantiasa meningkatkan integritasnya, Majelis Perguruan Tinggi Negeri hendaknya berperan aktif dengan cara mempublikasikan Indeks Prestasi Kumulatif Alumni (IPKA) seluruh sekolah kepada masyarakat. Angka IPKA yang dipublikasikan tersebut dapat menjadi  data pembanding sekaligus alat uji validitas IIUN yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Hal ini perlu dilakukan guna menjawab keraguan sebagian kalangan terkait keakuratan data yang digunakan untuk menentukan indeks integritas sebuah sekolah maupun daerah. Dengan demikian, masyarakat pun akan mendapatkan gambaran sebenarnya tentang integritas maupun kualitas yang dimiliki oleh sekolah.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar