Rabu, 11 Mei 2016

Sekolah Pertama dan Paling Utama



Berlakunya paradigma lama yang memandang lembaga pendidikan sebagai satu-satunya tempat dimana proses pendidikan dapat dijalankan nyatanya berdampak pada rendahnya partisipasi orangtua dalam mendidik anak. Tingginya tuntutan orangtua kepada pihak sekolah yang tidak diikuti dengan upaya tindak lanjut di rumah mengakibatkan proses pendidikan yang dilakukan berjalan secara parsial.  Akibatnya, anak tidak mampu tumbuh menjadi pribadi yang utuh sebagai akibat dari proses pembelajaran yang tidak tuntas. Ironisnya, guru sering kali diposisikan sebagai (satu-satunya) “terdakwa” manakala kualitas output yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan orangtua.                                                                            
Kesadaran masyarakat akan pentingnya peran keluarga sebagai “sekolah” pertama dan paling utama bagi anak  memang semakin hari kian tak terlihat. Sebaliknya, berlomba-lomba untuk mendapatkan kursi di sekolah-sekolah favorit demi anak tercintanya seakan menjadi “tradisi” menjelang tahun ajaran baru tiba. Lembaga pendidikan dipandang sebagai satu-satunya sarana bagi anak untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya. Sedangkan keluarga hanyalah  tempat dimana anak biasa “singgah” untuk menghilangkan rasa lapar dan hausnya.                                                                                                      
Di sisi lain kisruh dualisme kurikulum yang terjadi selama beberapa tahun terakhir secara tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja guru di lapangan.  Banyaknya tugas-tugas administrasi yang harus diselesaikan tak jarang mengakibatkan tugas utama guru dalam mendidik anak menjadi  terabaikan. Guru lebih sibuk menyusun perangkat pembelajaran daripada melaksanakan proses pembelajaran itu sendiri. Tak heran apabila peningkatan kemampuan (akademik) siswa pun tidak lagi menjadi agenda utama. Adapun upaya pembentukan karakter seperti yang diamanatkan oleh kurikulum pun tinggal sebatas angan yang hampir mustahil untuk direalisasikan.                                                                                
Kondisi yang digambarkan oleh penulis di atas pada akhirnya mendatangkan konsekuensi yang tidak sederhana. Sikap (sebagian) orangtua yang menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mengenal norma.  Berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja seakan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat “modern” yang kental dengan budaya hedonisme dan materialisme. Pada akhirnya, bonus demografi yang akan diperoleh oleh bangsa ini pun lebih berpotensi menjadi musibah daripada berkah.       
Untuk menjadikan anak sebagai pribadi yang utuh, diperlukan peran aktif orangtua dalam upaya pembentukan karakter sejak dini. Mengajarkan nilai ataupun norma pada anak saat mereka hendak memasuki bangku sekolah, jauh lebih penting dari sekedar mengenalkan bacaan maupun hitungan. Dalam hal ini orangtua diharapkan mampu menjadikan keluarga sebagai “sekolah” pertama bagi anak dimana mereka dapat belajar tentang aturan-aturan yang harus mereka jadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, lahirnya generasi unggul dan berkarakter seperti yang dicita-citakan pun dapat benar-benar terwujud. (Dimuat di Koran Siap Belajar, Edisi Awal Mei 2016)       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar