Sabtu, 10 Desember 2016

Literasi Al-Qur’an dan Pendidikan Karakter


         


Literasi Al-Qur’an di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) secara nasional dalam beberapa dekade terakhir cenderung menurun. Adapun latar belakang keagamaan siswa sebelum memasuki jenjang SMA, status sekolah, kondisi keluarga serta lingkungan masyarakat sekitar merupakan faktor yang cukup berpengaruh terhadap indeks literasi Al-Qur’an di kalangan siswa SMA. Selain itu ketersediaan guru (berkuaitas) serta kondisi prasarana sekolah pun turut menentukan tercapainya indeks literasi Al-Qur’an seperti yang diharapkan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan Kementerian Agama Abd Rahman Mas’ud dalam acara Seminar Hasil Penelitian Indeks Literasi Al – Qur’an Nasional yang digelar pada tanggal 1- 2 Desember lalu (PR, 03/12/2016). Pemerintah pun diharapkan segera merumuskan kebijakan yang komprehensip guna memperbaiki kondisi tersebut.
            Di lain pihak degradasi moral di kalangan remaja yang semakin hari kian parah seakan menjadi pekerjaan rumah yang entah kapan dapat diselesaikan. Berbagai persoalan yang menyelimuti generasi muda kita menjadi ganjalan utama bagi bangsa ini untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa – bangsa lainnya. Penyalahgunaan narkoba serta pergaulan bebas seakan menjadi “identitas” yang melekat pada diri pemuda yang dikenal sebagai calon – calon pemimpin bangsa itu.
Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, tak kurang dari 5,9 juta jiwa penduduk Indonesia tercatat sebagai pengguna narkoba. Jumlah tersebut dikhawatirkan akan terus bertambah seiring makin gencarnya para bandar narkoba dalam mengedarkan barang dagangannya dengan berbagai modus.   Adapun jumlah pelajar SMP dan SMA yang pernah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) mencapai 63 persen.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat kaitan yang sangat erat antara menurunnya literasi Al-Qur’an di kalangan pelajar dengan maraknya perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Dalam hal ini pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah tidak akan ada artinya apabila masih terdapat “jarak” antara peserta didik dengan kitab sucinya. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an berisi pedoman hidup yang semestinya dijadikan rujukan oleh ummat Islam dalam menjalankan kehidupannya. Selain itu keteladanan Nabi dan Rasul yang dikisahkan dalam Al-Qur’an merupakan contoh yang tepat untuk dijadikan panutan oleh anak didik kita dalam berperilaku.  
Adapun untuk mendekatkan anak didik kita dengan Al-Qur’an, membiasakan mereka untuk membaca Al – Qur’an sebelum ataupun sesudah kegiatan pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru. Tak hanya itu, menjadikan hafalan Al – Qur’an sebagai salah satu muatan lokal pun dapat dilakukan oleh pihak sekolah sebagai nilai tambah yang membedakan sekolahnya dengan sekolah – sekolah lainnya. Kebijakan tersebut telah diterapkan di beberapa sekolah swasta yang menerapkan sistem full day. Dengan demikian, anak didik kita pun akan mampu tumbuh menjadi pribadi unggul dan berkarakter. (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi 08 Desember 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar