Senin, 02 Januari 2017

Tahun Baru dan Pendidikan Karakter



Kemeriahan yang menghiasi malam pergantian tahun merupakan pemandangan rutin yang biasa kita jumpai hampir di seluruh pelosok negeri. Riuhnya tiupan terompet di jalan – jalan utama serta gemerlapnya cahaya kembang api yang menerangi seluruh penjuru langit, seolah menjadi pertanda akan segera dibukanya lembaran baru. Beragam panggung hiburan pun sengaja didirikan untuk menyambut datangnya hari esok yang menjanjikan harapan akan masa depan yang lebih baik itu.   
            Di tempat berbeda kita pun menyaksikan bagaimana sekelompok remaja yang kerap merayakan malam pergantian tahun baru tersebut dengan cara – cara yang tidak lazim. Mereka berkumpul di tempat – tempat wisata maupun pusat kota sambil meneguk minuman keras (miras) sebanyak - banyaknya. Tanpa merasa khawatir akan dampak yang ditimbulkan dari mengonsumsi barang haram tersebut, mereka pun larut dalam gemerlapnya malam yang tak jarang menjadi malam terakhir dalam hidupnya. Kabar tentang meninggalnya remaja akibat meneguk miras (oplosan) pun menjadi berita yang paling sering kita dengar sesaat setelah pergantian tahun.
            Di samping mabuk-mabukan, perilaku menyimpang lainnya yang biasa dilakukan oleh (sebagian) remaja di saat malam pergantian tahun adalah berzina. Penginapan – penginapan yang terletak di sepanjang pantai maupun pinggiran kota merupakan tempat favorit yang sering digunakan untuk melakukan perbuatan tercela tersebut. Tak hanya itu, sebagian remaja bahkan nekat melakukan perbuatan asusila itu di dalam tenda – tenda di tengah hutan yang memang telah disediakan oleh “panitia” jauh – jauh hari sebelumnya. Tak heran apabila alat kontrasepsi bekas pakai pun terlihat berserakan dimana – mana keeseokan harinya.
            Buramnya potret generasi muda tersebut seakan mengajak kita untuk kembali bercermin tentang sejauh mana upaya yang telah dilakukan guru dan orangtua untuk menanamkan nilai – nilai agama serta budi pekerti kepada anak – anak didik kita. Berulangnya “tragedi” yang sangat memilukan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang selama ini diterapkan di sekolah (terkesan) masih jauh panggang dari api. Hadirnya kurikulum baru (kurikulum 2013) yang diklaim sebagai “obat mujarab” untuk mengatasi degradasi moral pun nyatanya belum mampu merubah perilaku para remaja ke arah yang lebih baik. Sebaliknya, proyek “mercusuar” yang telah menghabiskan anggaran cukup besar itu semakin hari kian menunjukkan arah yang tidak jelas akibat perbedaan “selera” antar pemangku kebijakan saat ini dengan rezim pemerintahan sebelumnya.    
            Adapun malam pergantian tahun yang akan kita jumpai dalam beberapa hari ke depan merupakan tantangan tersendiri bagi guru, orangtua serta pemerintah dalam melindungi generasi muda kita dari berbagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila maupun adat ketimuran. Minuman keras serta alat kontrasepsi yang dapat diperoleh dengan mudahnya hendaknya menjadi catatan bagi pemerintah untuk meninjau kembali kebijakannya dalam mengatur distribusi barang yang seharusnya hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan tertentu itu.
Selain itu guru dan orangtua pun diharapkan mampu bersinergi dalam mengarahkan anak – anak mereka untuk melakukan kegiatan yang positif pada saat malam pergantian tahun. Mengajak anak untuk menghadiri acara Majelis Ta’lim yang biasa diadakan di masjid – masjid besar dapat dilakukan orangtua agar anak memiliki pemahaman yang benar tentang bagaimana pergantian tahun seharusnya dimaknai. Dengan demikian, budaya “jahiliyah” yang selama ini dilakukan oleh kalangan “terpelajar” itu pun secara perlahan dapat dihilangkan.   (Dimuat di Harian Umum Galamedia, Edisi 02 Januari 2017)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar