Minggu, 09 April 2017

Guru Beriman Akrab Dengan Alquran



Dalam rangka menyukseskan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di tingkat satuan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan pelatihan bagi 1500 guru dan kepala sekolah dasar serta sekolah menengah pertama yang tersebar di 34 provinsi. Adapun lahirnya pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan berintegritas merupakan tujuan utama dari program yang digagas oleh Mendikbud Muhajjir Effendy tersebut. Mendikbud sendiri menargetkan, di tahun 2020 mendatang seluruh sekolah telah mengimplementasikan PPK dimana setiap pendidik diharapkan mampu menjadi inspirator bagi peserta didiknya. 
Di tempat berbeda, degradasi moral di kalangan pendidik justru menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Berbagai tindak kekerasan fisik maupun seksual yang dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya kerap kali muncul ke permukaan dan mencoreng wajah dunia pendidikan kita. Tak hanya itu, nilai-nilai kejujuran yang mereka tanamkan kepada anak didiknya seakan tak berbekas manakala pemerintah memberlakukan persyaratan yang dinilai memberatkan bagi guru untuk mendapatkan haknya. Sebagian pendidik rela “menggadaikan” iman mereka demi segepok rupiah ataupun selembar surat pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Berbagai perilaku tidak pantas yang ditunjukkan oleh sebagian guru tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi apabila mereka benar-benar mentadabburi kandungan ayat – ayat suci Al-Qur’an.  Dalam hal ini kebiasaan membaca Al-Qur’an serta berusaha untuk memahami artinya akan berpengaruh terhadap kepribadian yang dimiliki oleh para pendidik serta pola pendidikan yang mereka terapkan di sekolah. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk senantiasa mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Setiap butir nasi yang kita makan haruslah benar – benar diperoleh dengan cara yang halal. Selain itu berbagai cerita yang dikisahkan dalam Al-Qur’an sejatinya mengandung pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya kita mendidik anak.
Menjadi teladan (uswatun hasanah) adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pendidik yang menginginkan anak didiknya tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia. Berusaha untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang kurang bermanfaat, terlebih di hadapan anak didiknya merupakan ciri bahwa guru tersebut benar-benar memiliki visi untuk melahirkan generasi unggul berkarakter. Tak hanya itu, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai “sahabat”, setiap pendidik akan  lebih memahami hakikat pendidikan yang sebenarnya serta jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya.
Oleh karena itu, penulis mengajak kepada setiap pendidik untuk lebih mendekatkan diri kita dengan Al-Qur’an. Mentadabburi setiap ayat yang terkandung di dalamnya akan membantu kita dalam menjalankan tugas yang mulia ini. Dengan demikian, lahirnya generasi yang memiliki daya saing tinggi dan berakhlak mulia pun dapat benar-benar terwujud. (Dimuat di Harian Umum Republika Edisi 02 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar