Rabu, 05 April 2017

Guru dan Korupsi



Adanya anggapan yang menyatakan bahwa guru merupakan profesi mulia dan jauh dari perbuatan korupsi, sangatlah menarik untuk dicermati. Tugas utamanya mendidik anak di dalam kelas dan sama sekali tidak berurusan dengan masalah keuangan sekolah menjadi alasan utama bagi sebagian masyarakat untuk tetap mempercayai anggapan tersebut. Selain itu ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, membuat guru tidak memiliki celah sedikit pun untuk melakukan tindak pidana korupsi seperti yang biasa dilakukan oleh (oknum) pejabat pada umumnya. Namun, benarkah demikian ?
Mengidentikkan korupsi dengan sejumlah nominal uang memang tidak sepenuhnya keliru. Korupsi dalam bentuk penggelembungan anggaran maupun penggunaan dana yang tidak sesuai dengan peruntukannya merupakan salah satu kejahatan yang cukup sering dilakukan oleh mereka yang selalu mencari keuntungan dengan menghalalkan segala cara. Namun demikian, tidak sedikit perbuatan atau tindakan seseorang yang dinilai sebagai salah satu bentuk korupsi sekalipun tidak berkaitan langsung dengan persoalan keuangan. Setidaknya, ada empat kebiasaan yang sering dilakukan oleh para guru kita yang dalam pandangan penulis dapat dikategorikan sebagai perbuatan korupsi.
Pertama, korupsi waktu. Datang terlambat dan pulang sebelum waktunya merupakan kebiasaan yang masih dilakukan oleh sebagian guru kita. Hal ini berarti bahwa ada sebagian hak siswa yang “terampas” akibat kelalaian guru mereka dalam menjalankan tugasnya. Andai setiap menit yang terampas itu dikonversi menjadi sejumlah nominal uang, tentunya akan menjadi nilai yang tidak sedikit jika dikalkulasikan. Padahal, pemerintah maupun yayasan memberikan gaji kepada guru dengan standar kerja serta waktu yang telah ditetapkan.
Kedua, korupsi fasilitas. Masih ditemukannya guru – guru yang menggunakan fasilitas sekolah untuk keperluan pribadi merupakan pemandangan rutin yang biasa kita temui di banyak sekolah. Penggunaan jaringan internet milik sekolah untuk kegiatan di luar pembelajaran merupakan salah satu contoh dari sekian banyak “perilaku menyimpang” yang dilakukan oleh para guru. Mengunduh lagu – lagu maupun film favorit biasa mereka lakukan di sekolah untuk menghemat kuota pribadinya. Selain itu penggunaan komputer serta printer sekolah pun biasa mereka lakukan untuk memenuhi tugas kuliahnya.
Ketiga, memanipulasi dokumen. Banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi guru untuk mendapatkan “gelar” sertifikasi tak jarang membuat mereka mengabaikan nilai – nilai kejujuran. Memanipulasi masa kerja serta membuat tanda tangan palsu kerap kali dilakukan demi mendapatkan selembar sertifikat sebagai pendidik. Tingginya kebutuhan hidup saat ini menjadi alasan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan tambahan sekalipun dengan cara – cara yang kurang pantas.
Keempat, korupsi tugas. Dalam Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Artinya, selain mengajar di dalam kelas guru juga berkewajiban untuk melakukan evaluasi terhadap kompetensi yang telah dicapai oleh anak didiknya serta kesulitan belajar yang mereka alami. Selain itu guru pun dihimbau untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta karakteristik peserta didiknya.
Akan tetapi realita di lapangan tidaklah demikian. Sebagian besar guru masih terlihat asyik dengan aktivitasnya masing – masing saat mereka memiliki waktu senggang di sela – sela jam mengajarnya. Bercengkerama di media sosial maupun membicarakan hal – hal yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran merupakan pemandangan rutin yang biasa kita saksikan di ruang guru. Adapun buku – buku di perpustakaan terkesan tak lebih dari sekedar pajangan untuk menambah poin pada saat proses akreditasi sekolah.
Perilaku “korup” seperti yang penulis gambarkan di atas secara tidak langsung berdampak pada kehidupan pribadi guru yang bersangkutan. Mereka tidak mampu menikmati ketenangan hidup sekalipun pendapatan yang diperoleh perbulannya (seharusnya) lebih dari cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhannya.  Kesusahan hidup kerap kali dirasakan oleh para guru yang tidak amanah dalam menjalankan tugasnya itu. Mulai dari permasalahan keluarga sampai dengan masalah utang piutang sering kali dialami oleh guru – guru semacam ini. Dalam beberapa kasus, tidak sedikit guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun guru yang telah lulus sertifikasi sama sekali tidak bisa menikmati gajinya akibat besarnya kewajiban yang harus dibayarkan ke beberapa bank sekaligus.
Selain berdampak pada kehidupan pribadinya, perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh sebagian guru tersebut juga berpengaruh terhadap output yang dihasilkan. Degradasi moral di kalangan remaja menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh bangsa yang saat ini tengah mengalami keterpurukan akibat besarnya beban utang luar negeri yang harus ditanggungnya. Berbagai perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba serta seks bebas seakan menjadi “identitas” yang melekat pada diri remaja yang dikenal sebagai generasi abad 21 ini. Bonus demografi yang akan diterima oleh bangsa ini pun pada akhirnya lebih berpotensi menjadi musibah daripada anugerah.
Saatnya Melakukan Intrsopeksi
Kesulitan hidup yang dihadapi oleh (sebagian) guru serta keterpurukan ekonomi yang tengah dialami oleh bangsa yang besar ini sudah selayaknya kita jadikan bahan evaluasi untuk mengukur sejauh mana kesungguhan kita dalam mendidik tunas – tunas bangsa. Generasi emas yang benar-benar mampu membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukan hanya dapat dilahirkan dari tangan – tangan pendidik yang memiliki dedikasi serta menjunjung tinggi nilai – nilai kejujuran. Dalam hal ini setiap pendidik hendaknya benar-benar memiliki kompetensi kepribadian yang memadai sesuai dengan amanat undang – undang. Dengan demikian, pendidikan pun akan mampu menyelamatkan bangsa ini dari lembah kesengsaraan yang lebih dalam. Semoga ! (Dimuat di Harian Umum Galamedia Edisi 05 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar