Kamis, 06 April 2017

Remaja dan Literasi Digital



Maraknya kasus kejahatan di dunia maya dalam beberapa tahun terakhir nyatanya telah menimbulkan dampak cukup besar bagi lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Kerugian secara materil serta hancurnya reputasi lembaga  merupakan dua hal paling mengerikan yang dialami oleh para pengguna teknologi informasi di tanah air. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Balai Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Jawa Barat dalam sebuah lokakarya “Elevating Information Security Awareness for Productivity” di Hotel Horison beberapa waktu lalu (PR,”31/03/2017”). Himbauan kepada setiap instansi agar senantiasa meningkatkan keamanan data pun disampaikan untuk mencegah terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.
Jika kita telusuri lebih jauh, penyalahgunaan teknologi informasi seperti yang dijelaskan di atas tak jarang dilakukan oleh kalangan remaja. Rasa ingin tahu yang tinggi serta sikap cenderung menyukai tantangan seakan memotivasi mereka untuk melakukan perilaku menyimpang tersebut. Keterbukaan informasi yang seharusnya dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka sebagai kalangan terdidik justru disalahgunakan untuk mencari keuntungan yang sebsar-besarnya dengan cara merugikan pihak lain.
Kenyataan menunjukkan, tidak sedikit instansi-instansi maupun personal yang menjadi korban “keganasan”  remaja yang juga dikenal dengan generasi digital (digital natives) ini. Mulai dari pencurian dan manipulasi data, perubahan password, sampai dengan perubahan tampilan website kerap kali terjadi dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.  Cyber crime seakan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan media online yang biasa diakses oleh jutaan orang tersebut. Ironisnya, sebagian besar remaja yang berperilaku menyimpang tersebut adalah mereka yang tengah atau pernah duduk di bangku sekolah.  
Budaya “barbar” yang ditunjukkan oleh sebagian besar remaja tersebut antara lain disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka tentang rambu – rambu yang berlaku di dunia maya. Pelajaran TIK yang selama ini diajarkan di sekolah cenderung hanya berorientasi pada keterampilan teknis dan mengesampingkan materi yang berkaitan dengan etika. Celakanya, dalam kurikulum baru (Kurikulum 2013) yang diberlakukan sejak beberapa tahun lalu, mata pelajaran TIK justru dihapuskan dari struktur kurikulum.  Integrasi TIK ke dalam beberapa mata pelajaran menjadi alasan bagi pemerintah saat itu untuk mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversial tersebut.
Agar teknologi informasi dapat benar – benar digunakan sebagaimana mestinya, menggalakan literasi digital di kalangan pengguna internet menjadi sebuah keniscayaan. Literasi digital pada dasarnya merupakan upaya untuk melakukan edukasi kepada para pengguna internet tentang dampak – dampak yang dapat ditimbulkan saat mereka melakukan transaksi elektronik. Dalam hal ini guru diharapkan mampu mengarahkan anak didiknya untuk senantiasa memperhatikan rambu – rambu saat mereka berinteraksi di dunia maya. Dengan demikian, pesatnya perkembangan teknologi informasi pun dapat benar – benar memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, bukan sebaliknya.  (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat Edisi 05 April 2017)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar